Home / Nasional

Rabu, 18 Juni 2025 - 18:04 WIB

PP HIKMAHBUDHI Desak Fadli Zon Minta Maaf atas Pernyataan Penyangkalan Pemerkosaan Massal Mei 1998

Jakarta, MediaPers. 18 Juni 2025 — Pernyataan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, yang meragukan kebenaran peristiwa pemerkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa pada Mei 1998, menuai kecaman dari berbagai pihak. Dalam sebuah wawancara yang belakangan viral di media sosial, Fadli Zon menyebut tragedi tersebut sebagai “rumor yang belum terbukti”, dengan alasan perlunya bukti yang kuat untuk mengukuhkannya sebagai fakta sejarah.

Menanggapi hal tersebut, Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (PP HIKMAHBUDHI) menyatakan keberatannya melalui Sekretaris Presidium Pusat, Melinia Luky. Menurutnya, pernyataan tersebut tidak hanya keliru secara historis, tetapi juga berpotensi melukai para penyintas, aktivis HAM, serta tim investigasi independen yang selama lebih dari dua dekade berjuang mengungkap kebenaran.

Baca Juga   HIKMAHBUDHI Pontianak Lantik Pengurus Baru Masa Bakti 2025–2027 : Awal Pengabdian dan Jalan Kepemimpinan Berdasarkan Nilai Dhamma

“Tragedi 1998 adalah luka kolektif bangsa yang tidak boleh dimanipulasi. Mengaburkan tragedi ini atas nama kehormatan bangsa justru dapat mempermalukan martabat bangsa itu sendiri. Bangsa yang besar bukanlah yang menyembunyikan dosa, tetapi yang berani mengakuinya,” ujar Melinia.

PP HIKMAHBUDHI menegaskan bahwa pernyataan Fadli Zon bertentangan dengan pengakuan sejumlah tokoh nasional, termasuk Presiden BJ Habibie saat itu, serta hasil investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 yang telah mendokumentasikan berbagai kekerasan, termasuk kekerasan seksual terhadap perempuan etnis Tionghoa.

Baca Juga   Ketua MPR RI Bamsoet Apresiasi Keberhasilan Polri Ungkap Sindikat Narkoba Internasional Fredy Pratama

Lebih lanjut, pernyataan tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya sistematis untuk merevisi sejarah nasional, membungkam suara korban, dan menghapus tanggung jawab aktor-aktor kekuasaan dalam kekerasan struktural negara.

“Sebagai mahasiswa Buddhis, kami percaya bahwa kebenaran tidak untuk disembunyikan, dan belas kasih berarti berpihak kepada korban, bukan membela kekuasaan. Pernyataan ini dapat melecehkan perjuangan kemanusiaan dan melanggengkan budaya impunitas,” kata Melinia.

Atas dasar tersebut, PP HIKMAHBUDHI mendesak Fadli Zon untuk menarik kembali pernyataannya serta menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik. (dwi/rfn)

Share :

Baca Juga

Nasional

Mahasiswa Buddhis Pontianak Dukung Kapolri Tolak Polri di Bawah Kementerian, Tegaskan Pentingnya Reformasi Internal
Uji Kompetensi BNSP Skema Beautician dan Beauty Advisor Digelar di Jakarta, Dorong Profesionalisme Industri Kecantikan

Nasional

Uji Kompetensi BNSP Skema Beautician dan Beauty Advisor Digelar di Jakarta, Dorong Profesionalisme Industri Kecantikan
1000 Peserta Ikuti United Nation World Meditation Day 2025 di Kalideres Jakarta Barat

Nasional

1000 Peserta Ikuti United Nation World Meditation Day 2025 di Kalideres Jakarta Barat

Nasional

Natal PWI Pusat 2025 digelar 24 Januari 2026 Usung Tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”

Nasional

Munas III PINTI Teguhkan Peran Perempuan Indonesia Tionghoa, dr. Metta Agustina Kembali Pimpin 2025–2029

Nasional

Soroti Isu Lingkungan, DPP MAHASI Deklarasikan Etika Lingkungan Hidup lewat Seminar Perempuan & Ekologi
Leadership Training IX HIKMAHBUDHI : Refleksi Dharma sebagai Katalisator Kemajuan Bangsa

Nasional

Leadership Training IX HIKMAHBUDHI : Refleksi Dharma sebagai Katalisator Kemajuan Bangsa

Nasional

Groundbreaking Gedung B Institut Nalanda: Tonggak Baru Pendidikan Buddhis di Indonesia