APTABI Sikapi Pemasangan Chattra di Borobudur: Ini Langkah Memuliakan Borobudur Melalui Pendekatan Spiritualitas Berkebudayaan

Berita7,776 views

Jakarta, 5 Mei 2026 — Asosiasi Perguruan Tinggi Agama Buddha Indonesia (APTABI) menyatakan dukungan terhadap rencana pemasangan chattra pada stupa induk Candi Borobudur sebagai bagian dari upaya pelestarian dan rekonstruksi simbolik warisan budaya Buddha di Indonesia.

APTABI yang merupakan wadah berhimpunnya 12 perguruan tinggi agama Buddha di Indonesia menilai langkah tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai spiritual dan historis Borobudur. Dalam pernyataan resminya, organisasi ini menegaskan komitmen akademik terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian nilai keagamaan Buddha, serta tanggung jawab intelektual atas warisan budaya.

Ketua Umum APTABI, Edi Ramawijaya Putra, menyampaikan bahwa chattra memiliki makna simbolik fundamental dalam kosmologi Buddhis. Berdasarkan kajian akademik, keberadaan chattra disebut sebagai pelengkap spiritual yang esensial bagi Borobudur, yang dipahami sebagai representasi sugatagunagana vihara dan mandala tiga dimensi dharmadhatu.

“Pemasangan chattra diyakini dapat mengembalikan dimensi intangible heritage yang telah hilang selama lebih dari dua abad, sehingga Borobudur dapat kembali berfungsi secara utuh sebagai pusat spiritual umat Buddha dunia,” ujarnya.

APTABI juga menilai bahwa rencana tersebut berpotensi memperkuat posisi Borobudur sebagai living heritage dengan nilai spiritual dan kultural universal. Selain itu, pemasangan chattra dinilai dapat mendorong berkembangnya kajian akademik lintas disiplin dan lintas negara, termasuk studi filologis, ikonografi Buddhis Nusantara, serta kajian lintas budaya.

Meski demikian, APTABI menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam setiap tahapan pelaksanaan. Organisasi ini mendorong agar seluruh pihak terkait mengedepankan pendekatan ilmiah (scientific prudence) melalui proses yang inklusif, partisipatif, dan transparan.

“Setiap intervensi terhadap Borobudur sebagai warisan dunia harus didasarkan pada kajian ilmiah yang komprehensif, terbuka, dan terverifikasi,” tegas Edi.

Dalam konteks tersebut, APTABI merekomendasikan penggunaan pendekatan Heritage Impact Assessment (HIA) untuk menilai dampak sosial, fisik, visual, historis, dan simbolik dari rencana pemasangan chattra.

APTABI juga menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah yang terus berkoordinasi dengan UNESCO dalam pengelolaan Borobudur sebagai warisan dunia. Koordinasi tersebut dinilai penting untuk menjaga nilai Outstanding Universal Value dengan tetap berpedoman pada standar konservasi global.

Organisasi ini menekankan bahwa setiap upaya rekonstruksi harus memenuhi prinsip keaslian (authenticity), keutuhan (integrity), kemungkinan pemulihan (reversibility), serta intervensi seminimal mungkin (minimum intervention). Selain itu, rekonstruksi juga harus memiliki dasar evidensial yang kuat, baik secara arkeologis maupun historis.

APTABI berharap rencana pemasangan chattra dapat menjadi momentum penguatan pelestarian warisan budaya sekaligus memperkaya pemahaman spiritual dan akademik terhadap Borobudur di tingkat global. (anes/rafian)