Jakarta Barat — Penguat Keragaman Masyarakat Nusantara bekerja sama dengan Asosiasi Pendeta Indonesia Jakarta Barat serta Gereja Bethel Indonesia Citra 2 menggelar Silaturahmi Tokoh Lintas Agama Jakarta Barat dengan tema “Bersama Merawat Kerukunan, Menebar Damai, Berdampak Nyata”, Jumat (15/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di GBI Citra 2 Jakarta Barat tersebut dihadiri para tokoh lintas agama dari berbagai unsur keagamaan di Indonesia, sebagai ruang dialog dan penguatan persaudaraan kebangsaan.Acara dimulai pukul 15.00–18.00 WIB, diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu nasional Satu Nusa Satu Bangsa. Setelah itu, doa pembuka dipimpin oleh Pdt. Ernest.
Sejumlah narasumber lintas agama turut hadir dalam forum ini,
1. Pdt. Markus Sudarji, M.A, M.PdK. – Tokoh Agama Kristen
2. Romo Reynold Agustinus Sombolayuk, OMI – Tokoh Agama Katholik
3. KH. Agus Salim – Tokoh Agama Islam
4. Ws. Sietnie – Tokoh Agama Konghucu
5. PMd. Rafian Tama Periadi, S.Ag. – Tokoh Agama Buddha
acara juga dihadiri oleh tokoh masyarakat Felix Sandra, Adi Tirta Ketum Perkumpulan Tionghoa Cinta Pancasila, Sujadi SH Pimpinan Harian Paguyuban Pencinta Nasional Pancasila, Cak Riyanto Pendopo Limo Tokoh Lintas Iman.

Dalam sambutannya, Ketua DPC Asosiasi Pendeta Indonesia Jakarta Barat sekaligus tuan rumah, Pdt. Timotius Alex Candra, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan untuk menjadi penyelenggara kegiatan.
“Ini sebuah kehormatan bagi kami menjadi tuan rumah. Kami menyambut rekan-rekan dari berbagai latar belakang iman untuk bersama membangun kebersamaan dalam keberagaman,” ujarnya. Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi tokoh agama dalam menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.

Sementara itu, Ketua Penguat Keragaman Masyarakat Nusantara, Yohanes Rudy, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir, termasuk perwakilan organisasi masyarakat. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bertepatan dengan momentum 28 tahun peristiwa Mei 1998 sebagai pengingat pentingnya menjaga kerukunan bangsa. “Dengan tema ‘Merawat Kerukunan, Menebar Damai, Berdampak Nyata’ yang dipilih tuan rumah, kita sama-sama belajar dan berdiskusi. Jika bibit-bibit konflik seperti tahun 1998 muncul kembali, bagaimana kita sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat dapat menjaga kedamaian,” ungkapnya.
Yohanes Rudy juga menambahkan bahwa Penguat Keragaman Masyarakat Nusantara memiliki visi membangun dan memperkuat persaudaraan lintas iman secara berkelanjutan.

Ws. Sietnie Tekankan Ajaran Konghucu sebagai Fondasi Moral dan Toleransi Sosial
Dalam pemaparannya, Ws. Sietnie menjelaskan bahwa ajaran Konghucu telah menekankan nilai moralitas dan intelektualitas manusia sejak ribuan tahun lalu melalui teladan Nabi Kongzi (Confucius).
“Ajaran Konghucu menekankan pembentukan manusia berkarakter luhur, berakhlak, serta memiliki kebajikan. Dalam istilah kami, manusia ideal adalah pribadi yang berintegritas secara moral dan intelektual,” ujarnya.
Ia juga menekankan konsep cinta kasih (ren), kebenaran, kesusilaan, dan kebijaksanaan sebagai dasar pembentukan watak manusia. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi fondasi dalam membangun sikap toleransi di tengah keberagaman.
Lebih lanjut, ia menjelaskan prinsip etika Konghucu yang dikenal dengan ajaran “apa yang tidak diinginkan pada diri sendiri jangan diberikan kepada orang lain” sebagai pedoman universal dalam menjaga harmoni sosial.
“Dalam ajaran Nabi Kongzi juga ditekankan bahwa seluruh manusia di empat penjuru dunia adalah saudara. Karena itu, perbedaan bukan alasan untuk berkonflik, tetapi untuk saling menghormati,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan sosial, umat Konghucu diajarkan untuk membina diri terlebih dahulu sebelum membangun relasi dengan orang lain. Konsep ini, katanya, menjadi dasar pembentukan masyarakat yang harmonis dan beradab.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya sikap tengah atau seimbang (zhongyong) dalam kehidupan, yakni tidak bersikap ekstrem dalam berbagai hal, termasuk dalam beragama.
“Kita diajarkan untuk tidak berlebihan dan tidak kurang dalam bersikap. Ini sejalan dengan konsep moderasi beragama agar tidak ada sikap yang ekstrem dalam kehidupan sosial,” tambahnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga keberagaman sebagai warisan bangsa serta memperkuat semangat kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Keberagaman harus kita rawat bersama agar tetap aman, damai, dan membawa kebaikan bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Pdt. Markus Sudarji Tekankan Peran Tokoh Agama sebagai Pembawa Damai di Tengah Keberagaman
Dalam pemaparannya, Pdt. Markus Sudarji, M.A., M.Pd.K., menyampaikan bahwa perbedaan suku, agama, dan budaya merupakan bagian dari desain ilahi yang harus disikapi dengan sikap saling menghargai.
“Perbedaan bukan ancaman, tetapi kekayaan bangsa. Tuhan menciptakan manusia dalam keberagaman sebagai bagian dari kehendak-Nya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberagaman ibarat tubuh manusia yang terdiri dari berbagai anggota dengan fungsi berbeda, namun tetap memiliki satu tujuan yang sama, yaitu membangun kehidupan bersama yang harmonis.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa tokoh agama memiliki peran strategis sebagai pembawa damai di tengah masyarakat, bukan sebagai pemicu konflik.
“Tokoh agama harus menjadi penyejuk ketika terjadi ketegangan sosial, serta hadir sebagai mediator yang menenangkan masyarakat,” tambahnya.
Pdt. Markus juga menyoroti pentingnya bijak dalam penggunaan media sosial di era digital, terutama dalam mencegah penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.
“Umat perlu diedukasi agar bijak bermedia sosial, mengklarifikasi informasi sebelum menyebarkannya, serta menanamkan nilai kasih, bukan kebencian,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kerja sama lintas iman dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial, donor darah, dan aksi kemanusiaan sebagai wujud nyata iman dalam kehidupan sosial.

Romo Reynold Tekankan Persatuan dalam Keberagaman sebagai Kehendak Tuhan dan Dasar Kerukunan Bangsa
Sementara itu, perwakilan tokoh agama Katolik, Romo Reynold Agustinus Sombolayuk, OMI, menegaskan bahwa keberagaman merupakan kehendak Tuhan yang tidak dapat diseragamkan.
“Keragaman tidak berarti keseragaman. Persatuan bukan berarti menyeragamkan, melainkan menghargai perbedaan dalam satu kesatuan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa konsep persatuan yang benar harus dimaknai sebagai kebersamaan dalam keberagaman, bukan penyatuan dalam bentuk yang seragam.
“Perbedaan agama, suku, dan budaya tidak boleh dipahami sebagai ancaman, tetapi sebagai kekuatan untuk membangun bangsa yang lebih baik,” tambahnya.
Romo Reynold juga mengutip pesan moral dari ajaran iman Kristiani tentang pentingnya menjadi pembawa damai di tengah dunia yang penuh konflik.
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran tokoh agama dalam meredam konflik sosial serta menangkal hoaks, radikalisme, dan ujaran kebencian di ruang publik.
Menurutnya, dialog lintas agama menjadi ruang penting untuk meluruskan kesalahpahaman dan memperkuat persaudaraan antarumat beragama.
“Ketika kita duduk bersama, banyak kesalahpahaman dapat diluruskan. Kita menyadari bahwa kita saling membutuhkan dalam membangun bangsa,” pungkasnya.

KH. Agus Salim: Semua Agama Mengajarkan Kebaikan dan Pentingnya Menjaga Kedamaian Umat
Dalam pemaparannya, KH. Agus Salim menyampaikan bahwa rumah ibadah, baik masjid, gereja, pura, maupun tempat ibadah lainnya, memiliki kesamaan fungsi sebagai ruang bagi umat untuk beribadah, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Setiap rumah ibadah menjadi tempat manusia kembali kepada Tuhan, baik untuk beribadah, berdoa, maupun memohon ampunan. Dari sana lahir dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kehadiran seseorang di rumah ibadah mencerminkan adanya keinginan untuk memperbaiki diri, mencari ketenangan, serta memperkuat nilai spiritual dalam kehidupan.
Menurutnya, pada dasarnya setiap agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kedamaian, dan larangan terhadap kekerasan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya tidak menafsirkan ajaran agama secara sempit atau berdasarkan kepentingan pribadi.
“Semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan dan kedamaian. Tidak ada ajaran yang mendorong kebencian atau perpecahan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman ilmu dan akhlak dalam membentuk perilaku manusia agar tidak mudah terprovokasi oleh emosi atau hawa nafsu.
Menurutnya, keseimbangan antara ilmu, ibadah, dan akhlak menjadi kunci dalam membangun pribadi yang bijak serta mampu menjaga kedamaian sosial.
“Ketika ilmu, akhlak, dan ibadah berjalan seimbang, maka akan lahir pribadi yang bijak dan mampu menjaga ketenangan dalam kehidupan bermasyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa manusia memiliki potensi untuk menjadi baik maupun buruk, namun pendidikan agama dan pembinaan spiritual di rumah ibadah menjadi faktor penting dalam mengarahkan manusia menuju kebaikan.
Ia juga mengajak seluruh umat untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama dalam membangun persatuan bangsa.
“Keberagaman akan menjadi kekuatan apabila kita memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga kedamaian dan persatuan,” pungkasnya.

Romo Rafian, S.Ag. : Moderasi Beragama dalam Buddhisme Didasarkan pada Jalan Tengah dan Cinta Kasih Universal
PMd. Rafian Tama Periadi, S.Ag. menjelaskan bahwa moderasi beragama dalam ajaran Buddha sejalan dengan konsep Jalan Tengah (Middle Way), yaitu sikap tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri dalam menjalani kehidupan.
“Dalam ajaran Sang Buddha, kita diajarkan untuk tidak bersikap ekstrem. Moderasi adalah jalan tengah yang menuntun pada kebijaksanaan dan kedamaian,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa prinsip Jalan Mulia Berunsur Delapan menjadi pedoman etika dalam membangun kehidupan yang harmonis, baik secara pribadi maupun sosial, sehingga tidak menimbulkan konflik antarindividu maupun kelompok.
Menurutnya, ajaran Buddha juga menekankan nilai-nilai kebangsaan seperti menjaga persatuan, menghormati hukum dan pemerintahan, menolak kekerasan, serta menghargai keberagaman budaya dan agama.
“Sang Buddha mengajarkan cinta kasih universal atau metta, tanpa membeda-bedakan makhluk hidup, termasuk dalam membangun hubungan dengan pemeluk agama lain,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa dalam tradisi Buddhis, tidak ada pemaksaan dalam penyebaran ajaran, melainkan mengedepankan kebijaksanaan, keteladanan, dan dialog.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa nilai anti-kekerasan merupakan prinsip utama dalam Buddhisme, sebagaimana tercermin dalam sila pertama yang melarang pembunuhan dan menyakiti makhluk hidup.
“Kedamaian sejati lahir dari hati yang penuh kasih sayang, kesabaran, dan kebijaksanaan, bukan dari kekerasan,” tambahnya.
Dalam pemaparannya, ia juga menyinggung sejarah Raja Asoka di India yang dikenal sebagai simbol perdamaian dan toleransi setelah mengalami perubahan hidup dan kemudian menyebarkan nilai Dharma.
Raja Asoka, katanya, meninggalkan pesan moral tentang pentingnya saling menghormati antaragama serta tidak merendahkan keyakinan lain.
“Dengan saling menghormati agama lain, kita sesungguhnya sedang memperkuat agama kita sendiri,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa nilai toleransi telah lama hidup dalam sejarah Nusantara, termasuk melalui karya sastra seperti Sutasoma dan konsep Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar persatuan bangsa Indonesia.
Menurutnya, prinsip tersebut menunjukkan bahwa keberagaman telah menjadi identitas bangsa sejak masa lampau dan harus terus dijaga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selain itu, ia menyoroti contoh nyata toleransi di masyarakat, termasuk keberadaan rumah ibadah yang berdampingan di berbagai wilayah sebagai simbol keharmonisan antarumat beragama.
“Gotong royong dan kerukunan sudah menjadi bagian dari budaya Nusantara yang harus terus kita rawat bersama,” pungkasnya.

Pembacaan Deklarasi
Kegiatan Silaturahmi Tokoh Lintas Agama Jakarta Barat dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Damai yang menegaskan komitmen bersama dalam menjaga kerukunan dan persatuan bangsa.
Deklarasi tersebut dibacakan oleh Ketua Penguat Keragaman Masyarakat Nusantara, yang menyampaikan komitmen seluruh tokoh lintas agama untuk terus merawat kedamaian di tengah keberagaman masyarakat.
“Kami, tokoh lintas agama Jakarta Barat, berkomitmen menjaga persatuan, menolak kekerasan dan intoleransi, serta bersama-sama membangun masyarakat yang damai, rukun, dan saling menghormati” demikian bunyi deklarasi tersebut.
Deklarasi ini menjadi penegasan sikap bersama para tokoh agama untuk memperkuat toleransi, mencegah potensi konflik sosial, serta menjaga keharmonisan kehidupan beragama di Jakarta Barat. Acara ditutup dengan foto bersama dan santap malam bersama. (rfn)













