BANYUWANGI, Wanita Buddhis Indonesia — Semangat emansipasi perempuan yang diwariskan R.A. Kartini terus hidup dan relevan di tengah dinamika zaman. Di berbagai daerah, nilai-nilai perjuangan Kartini tidak hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata yang mendorong perempuan untuk semakin berdaya, mandiri, dan berkontribusi bagi masyarakat. Momentum ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kesetaraan belum sepenuhnya usai, sehingga diperlukan peran aktif semua pihak untuk melanjutkannya.
Dalam semangat tersebut, PC Wanita Buddhis Indonesia (WBI) Kabupaten Banyuwangi menggelar peringatan Hari Kartini di Vihara Buddhayana Dharma Mulya. Kegiatan ini berlangsung khidmat sekaligus hangat, mencerminkan kebersamaan dan komitmen dalam meneladani nilai-nilai perjuangan Kartini.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu rohani Buddha (Vihara Gita) berbahasa Jawa, yang memberikan nuansa spiritual dan kearifan lokal. Selanjutnya, seluruh peserta berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan terhadap persatuan dan identitas nasional.
Ketua PC WBI Kabupaten Banyuwangi, Susanti Ningsih, dalam sambutannya menegaskan bahwa semangat perjuangan Kartini harus terus dijaga dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, peringatan Hari Kartini tidak boleh berhenti pada seremoni semata.
“Perjuangan Kartini belum selesai. Semangat Kartini jangan sampai padam. Meneladani Kartini bukan hanya dengan mengenakan kebaya, tetapi juga melalui semangat belajar, semangat berkarya, dan kontribusi nyata bagi keluarga, masyarakat, serta bangsa,” ujarnya.

Ia juga mengajak perempuan untuk terus meningkatkan kapasitas diri di berbagai bidang, sehingga mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Sementara itu, Ketua PC Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Kabupaten Banyuwangi, Bodhi Eko Prasojo, S.Pd.B, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran perempuan dalam menciptakan keseimbangan sosial bersama laki-laki. Ia menyampaikan bahwa perempuan memiliki posisi strategis sebagai mitra sejajar, bukan sekadar pelengkap.
“Perempuan harus mampu berkembang sesuai harapan Kartini, menjadi pribadi yang setara dan berdaya. Namun, kolaborasi antara laki-laki dan perempuan tetap menjadi kunci, sehingga keduanya dapat saling melengkapi dan menguatkan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam proses tersebut, perempuan tetap perlu menjaga jati diri dan nilai-nilai luhur yang dimiliki.

Memasuki sesi inti, penyuluh agama Buddha Kabupaten Banyuwangi, Veni Damma Wijayanti, S.Pd.B, menyampaikan materi yang menyoroti peran perempuan di era modern. Dalam penyuluhannya, ia menegaskan bahwa perempuan masa kini memiliki peluang besar untuk berkontribusi di berbagai sektor.
“Perempuan masa kini adalah sosok yang hebat, tangguh, dan berdaya. Mereka memiliki peran vital sebagai pilar keluarga, agen perubahan sosial, serta kontributor aktif dalam pembangunan ekonomi” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa ketangguhan perempuan tidak hanya terlihat dari kemampuan menghadapi tantangan, tetapi juga dari konsistensi dalam menjaga nilai-nilai moral dan sosial di tengah perubahan zaman.
Kegiatan ini turut dimeriahkan dengan penggunaan pakaian adat oleh para peserta. Mayoritas ibu-ibu mengenakan kebaya, sementara sebagian lainnya memakai batik. Hal ini menjadi simbol nyata pelestarian budaya sekaligus penghormatan terhadap identitas bangsa.
Meski diselenggarakan secara sederhana, rangkaian acara berlangsung penuh makna dan sarat nilai kebersamaan. Nuansa kekeluargaan dan semangat gotong royong terlihat kuat sepanjang kegiatan.(dwi/rfn)












