Enam Pasang Finalis Putra Putri Budaya Indonesia 2026 Jalani Sesi Tanya Jawab dengan Dewan Juri

Berita9,015 views

JAKARTA BARAT – Persaingan menuju gelar Putra Putri Budaya Indonesia 2026 semakin ketat. Sebanyak enam pasang finalis yang berhasil melaju ke babak enam besar menghadapi sesi tanya jawab langsung bersama dewan juri dalam Grand Final Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia 2026 di Grand Ballroom Hotel Mega Anggrek, Jakarta Barat, Sabtu (17/10/2026).

Pada tahapan ini, setiap finalis diberikan kesempatan memilih angka secara acak dari 1 hingga 12 yang ditampilkan pada layar. Angka tersebut menentukan anggota dewan juri yang akan memberikan pertanyaan kepada peserta.

Masing-masing finalis hanya memiliki waktu 60 detik untuk menyampaikan jawaban. Panitia memberlakukan batas waktu secara ketat dengan menghentikan penggunaan mikrofon ketika waktu yang diberikan telah habis.

Pertanyaan dewan juri mencakup berbagai persoalan strategis, mulai dari pelestarian budaya, globalisasi, ekonomi kreatif, keberagaman, penggunaan teknologi digital, hingga hubungan kebudayaan dengan lingkungan hidup.

Pelestarian Budaya dan Tantangan Modernisasi

Reyhan Ardiansyah dari Jawa Timur menjadi peserta pertama yang menghadapi sesi tanya jawab. Ia mendapatkan pertanyaan dari Founder Putra Putri Budaya Indonesia, Dr. Reko Serasi, S.S., M.A., mengenai hubungan antara pelestarian budaya dan autentisitas tradisi di tengah perkembangan zaman.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Reyhan menekankan pentingnya menjaga sekaligus mengembangkan kebudayaan melalui keterlibatan generasi muda.

Ia memperkenalkan program advokasi yang berfokus pada edukasi budaya inklusif, pelestarian tari tradisional bersama anak-anak, inovasi karya batik, serta penguatan kebanggaan terhadap bahasa daerah sebagai identitas budaya.

Sementara itu, Priscilla Aurelia dari Jawa Timur mendapat pertanyaan mengenai upaya membangun kolaborasi budaya antarpemuda ASEAN yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Priscilla mengusulkan program pertukaran dan kolaborasi budaya yang memanfaatkan media sosial sekaligus mempertemukan pemuda dari berbagai negara untuk mengenal kebudayaan secara langsung.

Menurutnya, promosi melalui platform digital perlu diimbangi dengan kegiatan nyata agar masyarakat tidak hanya mengetahui keberadaan suatu budaya, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

Bahasa Daerah, Pariwisata, dan Globalisasi

Finalis Putra Budaya Kalimantan Selatan, Abdus Salam, mendapat pertanyaan dari Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Anindita Kusuma Listya, S.Sos., MPP., mengenai keseimbangan antara penggunaan bahasa Indonesia sebagai identitas nasional dan pelestarian bahasa daerah sebagai identitas lokal.

“Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan, sedangkan bahasa daerah adalah akar yang kita miliki. Keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya adalah bahasa yang saling menguatkan,” ujar Abdus Salam.

Sementara itu, Veronica Yaennita dari Kalimantan Selatan mendapatkan pertanyaan mengenai kebijakan pemerintah daerah dalam pengelolaan kebudayaan.

Ia menekankan bahwa pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam pengambilan kebijakan, sehingga pengembangan kebudayaan tidak hanya mempertimbangkan kepentingan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan nilai dan tradisi masyarakat setempat.

Apriansya Putra dari Bengkulu menghadapi pertanyaan mengenai meningkatnya kunjungan wisatawan ke destinasi budaya yang justru dapat membatasi akses masyarakat lokal terhadap ruang budaya mereka.

Dalam jawabannya, Apriansya menyoroti pentingnya sosialisasi dan keterlibatan masyarakat sekitar sebagai pihak utama dalam memperkenalkan serta mengembangkan potensi wisata budaya daerah.

Adapun Fathiyah Puti Ramadhani dari Riau mendapat pertanyaan dari Sofian Tyar, S.E., M.M., mengenai globalisasi sebagai peluang atau ancaman bagi kebudayaan lokal.

Fathiyah memandang globalisasi tidak harus menjadi ancaman apabila generasi muda tetap memiliki kesadaran untuk menjaga kebudayaan sebagai bagian dari identitas bangsa.

Ekonomi Kreatif dan Indonesia Emas 2045

Christian Yogi dari Kalimantan Barat mendapatkan pertanyaan dari Abizar Yogyananda U., Grand Winner Putra Budaya Indonesia 2022, mengenai pengembangan ekosistem ekonomi kreatif yang mampu memberikan ruang bagi budaya tradisional sekaligus menghasilkan nilai ekonomi.

Christian menilai ekonomi kreatif dapat menjadi sarana memperkenalkan kebudayaan Indonesia hingga ke tingkat internasional. Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan industri kreatif tetap harus memperhatikan nilai dan makna asli dari kebudayaan tersebut.

Dari Sulawesi Utara, Fachri Sumaila mendapat pertanyaan dari Syafira Mardhiyah, Putri Indonesia Kebudayaan 2025, mengenai peran kebudayaan dalam menghadapi persaingan global menuju Indonesia Emas 2045.

Fachri menegaskan bahwa kebudayaan memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui industri kreatif, termasuk seni rupa dan berbagai produk budaya yang memiliki daya saing internasional.

Ia juga mengaitkan jawabannya dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, khususnya pentingnya pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan.

Media Sosial, Lingkungan, dan Toleransi Budaya

Lingga Khairunnisa dari DKI Jakarta 2 mendapatkan pertanyaan mengenai fenomena penggunaan musik Indonesia yang dipadukan dengan tarian mancanegara dalam konten media sosial.

Lingga menilai fenomena tersebut sebagai salah satu bentuk kreativitas generasi muda di era digital. Menurutnya, perkembangan media sosial memberikan ruang bagi anak muda untuk mengeksplorasi berbagai bentuk ekspresi budaya.

Sementara itu, Anisa Suliyanti dari Kalimantan Timur mendapat pertanyaan dari Fahira Idris mengenai peran kebudayaan dalam menghadapi bencana lingkungan, seperti banjir dan tanah longsor.

Anisa menjelaskan bahwa tradisi dan kebiasaan yang diwariskan leluhur dapat menjadi landasan dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga alam dan lingkungan.

Menurutnya, nilai budaya yang mengajarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam perlu terus dipertahankan dalam kehidupan masyarakat modern.

M. Anggara dari Kalimantan Tengah menghadapi pertanyaan dari Ivan Chen mengenai karakter yang diperlukan untuk meminimalkan potensi konflik akibat perbedaan pandangan dalam masyarakat multikultural.

Ia menekankan pentingnya sikap saling menghormati, toleransi, dan menghargai perbedaan sebagai karakter utama yang harus dimiliki seorang duta budaya.

Komitmen Nyata Melestarikan Budaya

Gillian Fensienna dari Bangka Belitung menjadi peserta terakhir yang menghadapi sesi tanya jawab. Ia mendapat pertanyaan dari Ivan Chen mengenai langkah nyata yang akan dilakukan apabila terpilih menjadi Putri Budaya Indonesia 2026.

Gillian menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan kegiatan pelestarian budaya, khususnya melalui seni musik dan penciptaan lagu daerah.

Ia juga berencana mengintegrasikan program advokasinya dengan gagasan para finalis lainnya agar upaya pelestarian budaya dapat dilaksanakan secara kolaboratif.

Sesi tanya jawab ini menjadi salah satu tahapan penting untuk melihat kemampuan para finalis dalam memahami persoalan kebudayaan, berpikir kritis, serta menyampaikan gagasan dan solusi dalam waktu terbatas.

Melalui pertanyaan yang beragam, dewan juri menggali pemahaman para peserta mengenai tantangan pemajuan kebudayaan Indonesia sekaligus kesiapan mereka untuk menjadi duta budaya yang mampu berkontribusi bagi masyarakat.

Ajang Putra Putri Budaya Indonesia 2026 tidak hanya menekankan kemampuan tampil di atas panggung, tetapi juga mendorong generasi muda untuk memiliki wawasan, kepedulian, dan komitmen nyata dalam menjaga warisan budaya bangsa.

Tujuh Dewan Juri Grand Final Putra Putri Budaya Indonesia 2026

  1. Anindita Kusuma Listya, S.Sos., MPP. – Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI.
  2. Fahira Idris – Senator Provinsi DKI Jakarta.
  3. Dr. Reko Serasi, S.S., M.A. – Founder Putra Putri Budaya Indonesia.
  4. Abizar Yogyananda U. – Grand Winner Putra Budaya Indonesia 2022.
  5. Syafira Mardhiyah – Putri Indonesia Kebudayaan 2025.
  6. Ivan Chen – Ketua KOMTAP KADIN Indonesia Bidang Pengembangan Pemanfaatan dan Pembinaan Budaya.
  7. Sofian Tyar, S.E., M.M. – Chief of Academy Ekles Group.

(rafian)