Gereja Maria Bunda Karmel Jadi Ruang Toleransi, Halal Bihalal Lintas Iman Berlangsung Hangat

Berita6,985 views

JAKARTA BARAT — Semangat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama tercermin dalam kegiatan Halal Bihalal bertema “Menjalin Tali Persaudaraan Sesama Agama” yang digelar di Gereja Maria Bunda Karmel, Senin (27/4/2026) malam.Halal Bihalal lintas agama itu terselenggara berkat dukungan Stella Aryati selaku Ketua Seksi Hubungan Antar Agama Gereja Maria Bunda Karmel.

Acara yang berlangsung pukul 19.00 hingga 22.00 WIB ini dihadiri di antaranya Romo Suitbertus Marsanto, O.Carm, K.H. Tatang Rahmat Firdaus selaku Ketua Umum Da’i Kamtibmas Polda Metro Jaya, H. Saumun Hasan selaku Ketua FKUB Jakarta Barat, Dr. Ketut Sukadana tokoh agama Hindu, cak riyanto tokoh lintas agama, PMd. Rafian Tama Periadi, S.Ag. Wakil Sekretaris Pokja Wali Kota PWI Jakarta Barat, Ema Rochma Kasi Ekbang Kelurahan Kebon Jeruk, Bripka Julkarnain Bhabinkamtibmas Kelurahan Kebon Jeruk, Serma Besus Yudho Babinsa Koramil 05/Kebon Jeruk, serta warga rt.016 rw.004 kelurahan kebon jeruk

Romo Suitbertus Marsanto, O.Carm, yang mewakili Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Karmel (MBK), menyampaikan bahwa kegiatan Halal Bihalal merupakan agenda rutin yang memiliki makna penting dalam mempererat hubungan antarumat.

“Acara Halal Bihalal ini bertujuan untuk menjalin persaudaraan satu dengan yang lain, dan telah kita laksanakan setiap tahun. Kami berharap kebersamaan ini menjadi sesuatu yang baik untuk terus kita lakukan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa upaya membangun persaudaraan merupakan hal yang perlu terus dipelihara dalam kehidupan bermasyarakat, terutama di tengah keberagaman.

“Menjalin persaudaraan adalah sesuatu yang wajib kita lakukan sebagai warga masyarakat. Kita hidup bersama, berdampingan satu sama lain, dan dapat bergaul dengan saudara-saudara lintas latar belakang. Hal ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami, khususnya dalam keberadaan kami di tengah masyarakat,” lanjutnya.

dilanjutkan sambutan oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Barat, H. Saumun Hasan, menegaskan bahwa tradisi Halal Bihalal tetap memiliki makna penting dalam mempererat hubungan antarumat beragama, meskipun Idulfitri telah berlalu lebih dari satu bulan. Halal Bihalal bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan sarana untuk menyambung silaturahmi, mempererat kasih sayang, serta memperkuat hubungan harmonis antarumat beragama.

“Walaupun Idulfitri sudah lewat lebih dari satu bulan, kegiatan Halal Bihalal masih dilaksanakan di berbagai tempat. Ini dalam rangka menyambung silaturahmi, menyambung kasih sayang, dan mempererat hubungan antarumat beragama, sehingga tercipta kerukunan yang harus terus kita jaga,” ujarnya ketua FKUB Jakarta barat.

Saumun juga menilai tahun 2026 sebagai momentum penting bagi toleransi di Indonesia. Ia menyoroti berdekatan waktunya sejumlah hari besar keagamaan, seperti Hari Raya Nyepi, Idulfitri, dan Paskah.

“Ini menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang menjunjung tinggi toleransi. Kita tidak pernah mempermasalahkan peribadatan atau perayaan agama masing-masing, karena kita sudah semakin dewasa dalam kehidupan berbangsa,” katanya.

Lebih lanjut, Saumun menegaskan bahwa menjaga kerukunan umat beragama bukan hanya menjadi tugas FKUB semata, melainkan tanggung jawab bersama, baik pemerintah, tokoh agama, maupun seluruh elemen masyarakat.

“Indonesia adalah negara yang sangat plural, dengan beragam suku, budaya, agama, dan kepercayaan. Namun kita tetap rukun. Ini menjadikan Indonesia sebagai contoh bagi negara lain. Kita diikat oleh semangat Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu,” tegas mantan camat kebon jeruk tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, FKUB Jakarta Barat juga terus mendorong pengembangan program kampung kerukunan sebagai model kehidupan masyarakat yang harmonis dalam keberagaman. Saumun menjelaskan bahwa kampung kerukunan merupakan wadah bagi masyarakat lintas agama, suku, dan budaya untuk hidup berdampingan secara damai serta menjadi ruang dialog dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial. Program ini sebelumnya telah digagas dan dibentuk di wilayah Rawa Buaya oleh KH. Tatang Rahmat Firdaus, dan akan terus dikembangkan ke wilayah lain.

“Kami menargetkan dalam lima tahun ke depan, setiap kecamatan memiliki minimal satu kelurahan kampung kerukunan sebagai contoh. Di sana, tokoh masyarakat dan tokoh lintas agama bisa bertemu, berdialog, dan menyelesaikan persoalan bersama,” jelasnya.

Ia menilai, komunikasi yang intens antar tokoh masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah konflik. Melalui interaksi yang rutin, seperti diskusi santai hingga kegiatan kebersamaan, potensi kesalahpahaman dapat diminimalisir.

“Konflik sering terjadi karena miskomunikasi. Kalau sering bertemu, saling mengenal, saling memahami, maka tidak akan mudah terjadi gesekan,” katanya.

Di akhir sambutannya, Saumun menyampaikan apresiasi kepada pihak gereja yang secara konsisten menyelenggarakan kegiatan Halal Bihalal lintas agama.

“Saya mengapresiasi gereja ini yang rutin mengadakan kegiatan seperti ini. Kegiatan ini harus terus dilanjutkan agar kita bisa saling mengenal, saling menyapa, dan memperkuat toleransi,” pungkasnya.


Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiyah oleh K.H. Tatang Rahmat Firdaus. Dalam penyampaiannya, ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan momentum Halal Bihalal sebagai sarana memperkuat silaturahmi sekaligus meningkatkan kualitas diri.

Ia menegaskan bahwa ibadah puasa di bulan Ramadan sejatinya merupakan proses pendidikan untuk melatih pengendalian diri, baik dari hal yang diharamkan maupun yang diperbolehkan.

“Selama satu bulan kita dilatih untuk mengendalikan diri. Bahkan yang halal saja kita mampu menahan diri, apalagi yang haram. Seharusnya dari situ kita bisa mengambil hikmah dalam kehidupan sehari-hari,” ujar ketua fkub jakarta barat periode 2009-2019 itu.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa nilai-nilai tersebut harus terus dipraktikkan setelah Ramadan, bukan hanya saat menjalankan ibadah puasa.

“Jangan sampai setelah Ramadan kita kembali pada kebiasaan lama, tidak mampu mengendalikan diri. Agama bukan hanya untuk dijalankan secara ritual, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya menjaga sikap dan akhlak dalam kehidupan bermasyarakat, terutama di tengah keberagaman.

“Orang yang beragama seharusnya mampu menyelesaikan masalah dengan bijak, bukan justru memperkeruh keadaan. Kita hidup di era modern, berpendidikan, maka setiap persoalan harus diselesaikan dengan kepala dingin dan niat baik,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi, baik dalam kehidupan nyata maupun di media sosial, serta menjauhi sikap saling menghina.

“Jaga lisan dan perilaku, termasuk di media sosial. Jangan sampai kita menyakiti orang lain, karena setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban,” tambahnya.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kerukunan, khususnya di Jakarta Barat.

“Kita punya tanggung jawab bersama menjaga wilayah ini agar tetap aman, damai, dan kondusif. Tidak ada yang bisa bekerja sendiri, semua harus saling mendukung,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya memperbanyak silaturahmi sebagai kunci menjaga keharmonisan sosial.

“Perbanyak silaturahmi, saling mengenal, saling memahami. Dari situ akan tumbuh rasa saling menghargai dan menghormati,” katanya.

Dalam rangka meningkatkan kepedulian lingkungan, Stella Aryati turut menyampaikan sosialisasi mengenai pentingnya mengurangi penggunaan sampah plastik, khususnya melalui kebiasaan menggunakan tumbler.
Ia mengajak masyarakat untuk mulai beralih dari penggunaan botol plastik sekali pakai ke wadah minum yang lebih ramah lingkungan. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat memberikan dampak besar dalam mengurangi pencemaran lingkungan.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap gerakan tersebut, pihak Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Karmel (MBK) juga membagikan souvenir berupa tumbler kepada para peserta. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi pengingat sekaligus dorongan bagi masyarakat untuk menerapkan gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Sementara itu Ketua Komite Lintas Agama Penyelenggara Rudy Yohanes sebagai panitia penyelenggara Halal Bihala berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dimana sebagai wadah untuk mempererat hubungan sosial dan memperkokoh nilai-nilai kebhinekaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Dalam kesempatan yang berbahagia ini, kami Komite Lintas Agama Jakarta akan terus lebih meningkat acara-acara silaturahmi sebagai upaya untuk dapat terus memperkuat Persatuan dan Persaudaraan dalam bingkai Kebhinekaan,” kata Rudy Yohanes menegaskan

Acara semakin semarak dengan berbagai kegiatan interaktif yang melibatkan seluruh peserta. Panitia menghadirkan sesi tebak lagu nasional dan daerah yang disambut antusias oleh hadirin. Suasana keakraban pun semakin terasa ketika sejumlah peserta turut mempersembahkan lagu, menciptakan nuansa hangat dan penuh kebersamaan.

Selain itu, pembagian doorprize menjadi daya tarik tersendiri yang menambah keceriaan acara. Momen ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mempererat hubungan warga dan tokoh lintas agama yang hadir.

Rangkaian kegiatan tersebut menutup acara Halal Bihalal dengan suasana penuh kegembiraan, sekaligus memperkuat semangat persaudaraan dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat.(rafian)