Menuju Jakarta Global City, Bamus Betawi Perjuangkan Pendidikan Anak Seniman dan Pelestarian Budaya

Berita24 views

Jakarta – Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) menegaskan komitmennya dalam memperkuat pendidikan generasi muda Betawi dan melestarikan budaya daerah melalui Rapat Kerja (Raker) yang digelar di The Acacia Hotel, Jakarta, Selasa(16/6/2026).

Raker tersebut merupakan bagian dari agenda kepengurusan Bamus Betawi periode berjalan di bawah kepemimpinan Ketua Umum Riano yang saat ini memasuki periode kedua. Sejumlah program strategis dibahas dalam forum tersebut sebagai upaya mendukung penguatan peran masyarakat Betawi di tengah perkembangan Jakarta menuju kota global.

Fokus pada Pendidikan Anak Seniman

Salah satu rekomendasi utama Raker adalah peningkatan akses pendidikan bagi anak-anak seniman Betawi dan keluarga kurang mampu.

Peserta Raker menilai masih banyak seniman Betawi yang aktif berkarya dan menghibur masyarakat, namun menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Karena itu, Bamus Betawi mendorong pemerintah untuk memperluas dukungan melalui berbagai program pendidikan, termasuk pemberian beasiswa.

Langkah tersebut diharapkan dapat menekan angka putus sekolah dan membuka kesempatan pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda Betawi.

Pelestarian Budaya dan Kuliner Khas Betawi

Selain sektor pendidikan, pelestarian budaya dan kuliner Betawi juga menjadi perhatian dalam Raker. Bamus Betawi menyoroti sejumlah kuliner tradisional yang hingga kini masih diproduksi secara rumahan, tetapi belum banyak dikenal masyarakat luas.

Beberapa di antaranya adalah sate asem, sate lembut berbahan daging sapi, laksa Betawi, soto Betawi, serta berbagai jenis kue tradisional Betawi yang keberadaannya semakin terbatas.

Melalui Raker tersebut, muncul gagasan pembentukan pusat kuliner Betawi yang dapat menjadi wadah terpadu bagi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menikmati berbagai makanan khas Betawi dalam satu lokasi.

Perjalanan Bamus Betawi

Bamus Betawi didirikan pada 1982 sebagai wadah pemersatu masyarakat Betawi. Organisasi ini dipimpin pertama kali oleh almarhum Effendi Yusuf, kemudian dilanjutkan oleh Letjen TNI (Purn) Sanif dan almarhum Mayjen TNI (Purn) Marzuki Edi Nala Praya.

Sejak pertengahan 1980-an, berbagai upaya pelestarian budaya Betawi mulai berkembang. Salah satu momentum penting adalah penyelenggaraan Lebaran Betawi yang menjadi ajang promosi budaya, kesenian, dan kuliner Betawi kepada masyarakat luas.

Kegiatan tersebut terus berlangsung hingga kini dan menjadi salah satu agenda budaya tahunan yang dikenal masyarakat Jakarta.

Peran Perempuan Betawi

Dalam kesempatan yang sama, Bamus Betawi juga menyoroti kontribusi perempuan Betawi dalam pelestarian budaya dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Persatuan Wanita Betawi yang dibentuk pada 1983 menjadi wadah silaturahmi perempuan Betawi dari berbagai wilayah Jakarta. Dari organisasi tersebut kemudian lahir Yayasan Sinar Nanas yang berfokus pada kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Selama ini yayasan tersebut aktif menyalurkan santunan bagi anak yatim, bantuan kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya, serta berbagai kegiatan pameran dan pemberdayaan ekonomi. Ke depan, program pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga akan menjadi salah satu fokus kegiatan.

Menyongsong Jakarta sebagai Kota Global

Ketua Yayasan Sinar Nanas sekaligus Dewan Pakar Persatuan Wanita Betawi, Cucu Sulaiha, mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap pelestarian budaya Betawi di tengah transformasi Jakarta menuju kota global.

Menurutnya, generasi muda Betawi perlu meningkatkan kemampuan di bidang teknologi dan digital agar mampu bersaing sekaligus mengembangkan sektor pendidikan dan UMKM.

“Kami berharap 20 tahun mendatang, ketika Jakarta menjadi kota global, wisatawan yang datang dapat dengan mudah menemukan dan menikmati kuliner serta budaya Betawi dalam satu kawasan. Masyarakat Betawi juga harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas budayanya,” kata Cucu Sulaiha.

Raker Bamus Betawi ditutup dengan harapan agar berbagai program yang dirumuskan dapat mendukung terwujudnya Jakarta sebagai kota global, sekaligus memperkuat budaya Betawi sebagai salah satu identitas utama ibu kota.(Rosmauli/rfn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *