Viral Berjas Almamater Undira di Bundaran HI, Bayu Setiadi Akui Dibayar untuk Hadiri Acara Sumpah Pemuda

Berita43 views

MediaPers.com |
JAKARTA — Bayu Setiadi, yang juga dikenal dengan nama Dino, memberikan klarifikasi terkait video dirinya mengenakan jas almamater Universitas Dian Nusantara (Undira) saat menghadiri acara Deklarasi Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Kamis (29/10/2026).

Dalam klarifikasinya, Bayu menegaskan bahwa dirinya bukan mahasiswa aktif maupun alumni Universitas Dian Nusantara.

Ia juga mengungkapkan bahwa kehadirannya dalam kegiatan tersebut berdasarkan undangan dari sebuah komunitas dan disertai bayaran.

Klarifikasi itu disampaikan melalui video yang diunggah di media sosial resmi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undira. Langkah tersebut dilakukan untuk meluruskan informasi yang telanjur beredar dan mengklarifikasi penggunaan atribut kampus dalam kegiatan tersebut.
“Saya di sini hendak mengklarifikasi bahwa saya bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara,” ujar Bayu dalam video klarifikasi tersebut.

*Mengaku Dibayar untuk Menghadiri Acara

Bayu menjelaskan, keikutsertaannya dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI bukan karena mewakili aspirasi mahasiswa Undira.

Ia mengaku hadir atas undangan komunitas dan menerima bayaran untuk mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya mengikuti acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026 berdasarkan undangan dari komunitas dan saya dibayar,” ungkapnya.

Terkait jas almamater yang dikenakannya, Bayu mengatakan atribut tersebut diberikan kepadanya menjelang kegiatan dimulai. Ia mengaku tidak mengetahui asal-usul jas almamater tersebut maupun keterkaitannya dengan pihak kampus.
“Mengenai almamater yang saya kenakan itu diberikan kepada saya tanpa saya ketahui asal usulnya,” jelas Bayu.

Pengakuan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya meluruskan persepsi publik mengenai keterlibatan mahasiswa Undira dalam kegiatan yang berlangsung di ruang publik tersebut.

Video Viral Picu Pertanyaan Publik
Polemik ini bermula ketika potongan video seorang peserta kegiatan yang mengenakan jas almamater Undira beredar luas di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, pria yang bersangkutan terlihat kebingungan ketika ditanya mengenai asal kampusnya.

Situasi itu memicu pertanyaan warganet, terlebih ketika jawaban yang disampaikan dalam video dinilai tidak sesuai dengan identitas kampus pada atribut yang dikenakannya.

Video tersebut kemudian menjadi perhatian dan mendorong perlunya klarifikasi untuk memastikan status pria yang bersangkutan serta meluruskan informasi mengenai penggunaan atribut kampus.
Melalui video yang dipublikasikan BEM Undira, Bayu akhirnya menyampaikan pengakuan mengenai status akademiknya dan alasan kehadirannya dalam kegiatan tersebut.

Meski demikian, klaim mengenai mekanisme perekrutan peserta, pihak yang memberikan bayaran, serta asal-usul jas almamater tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut agar persoalan ini dapat dipahami secara utuh.

Sampaikan Permohonan Maaf kepada Undira
Dalam pernyataannya, Bayu juga menyampaikan permohonan maaf kepada pihak Universitas Dian Nusantara atas polemik yang muncul akibat penggunaan jas almamater tersebut.

Ia mengakui kurang teliti dalam menerima pekerjaan yang ditawarkan kepadanya dan menegaskan bahwa permohonan maaf itu disampaikan tanpa paksaan.
“Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada pihak yang dirugikan, terutama kepada pihak Universitas Dian Nusantara.

Di sini saya memohon maaf tanpa ada paksaan dan ini murni kesalahan saya yang tidak teliti menindak suatu pekerjaan. Terima kasih,” tuturnya.

Bayu turut menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan organisasi mahasiswa Undira yang telah memberinya kesempatan untuk menyampaikan klarifikasi.
“Saya berterima kasih kepada rekan-rekan Ormawa Undira yang memberikan saya wadah klarifikasi tanpa mengintimidasi dan menjamin keamanan saya,” ujarnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat mengenai pentingnya verifikasi identitas dan penggunaan atribut institusi dalam kegiatan yang melibatkan massa di ruang publik.

Penggunaan atribut kampus oleh seseorang yang tidak memiliki hubungan akademik dengan institusi terkait berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan merugikan nama baik lembaga pendidikan.

Di sisi lain, dugaan adanya pengerahan massa berbayar perlu disikapi berdasarkan keterangan yang terverifikasi, termasuk mengenai penyelenggara, mekanisme perekrutan peserta, serta tujuan kegiatan.

Klarifikasi yang disampaikan Bayu melalui BEM Undira diharapkan dapat membantu meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat. Namun, penelusuran lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan seluruh fakta terkait peristiwa tersebut.

Hingga informasi ini disusun, keterangan mengenai pihak yang mengundang Bayu, pihak yang memberikan bayaran, dan asal-usul jas almamater yang dikenakannya belum dijelaskan secara terperinci dalam pernyataan yang dikutip.

Red**
# Kompas. com