USDEK Birawa Adi Guna Gerakan Pemuda Marhaenis: Marhaenisme Harus Memuliakan Kemanusiaan di Tengah Perbedaan

Berita56 views

JAKARTA BARAT – Pemutaran film Ageman yang diselenggarakan Penguat Keragaman Masyarakat Nusantara (PKMN) menjadi ruang refleksi tentang toleransi, persaudaraan, dan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman. Dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Yayasan SLB B Pangudi Luhur, Kembangan, Jakarta Barat, Minggu (1/11/2026), Tatang Supriatna, Komandan Nasional USDEK Birawa Adi Guna Gerakan Pemuda Marhaenis, menyampaikan pandangan filosofis mengenai hubungan antara Marhaenisme dan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurut Tatang, film Ageman bukan sekadar karya sinematografi yang menggambarkan perbedaan keyakinan, melainkan juga mengajak masyarakat bercermin tentang sejauh mana manusia mampu menghormati dan memuliakan sesamanya.

“Bagi saya, film Ageman bukan sekadar karya sinematografi yang menceritakan perbedaan keyakinan. Film ini mengajak kita bercermin: sejauh mana kita telah memanusiakan manusia?” ungkap Tatang.

Ia menegaskan, dalam perspektif Marhaenisme, manusia tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan pakaian, simbol, identitas, maupun keyakinan yang melekat pada dirinya. Sebelum seseorang memiliki identitas agama, suku, dan golongan, setiap manusia memiliki martabat, perasaan, harapan, serta hak untuk hidup dalam kedamaian.

Tatang menjelaskan, perbedaan merupakan kenyataan kehidupan yang tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh. Setiap orang lahir dalam lingkungan keluarga, budaya, dan keyakinan yang berbeda. Karena itu, tidak adil apabila perbedaan tersebut justru dijadikan dasar untuk merendahkan, mengucilkan, menghakimi, bahkan membenci sesama.

Lebih lanjut, ia mengaitkan pesan film Ageman dengan pemikiran Bung Karno mengenai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Menurutnya, semangat Marhaenisme harus diwujudkan melalui keberpihakan kepada martabat manusia, terutama mereka yang hak-haknya kerap diabaikan.

“Perjuangan kemanusiaan tidak boleh berhenti pada pembelaan terhadap kelompok sendiri, tetapi harus menjangkau setiap manusia tanpa memandang latar belakangnya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa toleransi tidak cukup dimaknai sebagai sikap membiarkan orang lain menjalankan keyakinannya. Toleransi perlu berkembang menjadi solidaritas, kerja sama, dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kita tidak harus memiliki doa yang sama untuk melakukan kebaikan yang sama. Kita tidak harus berdiri di rumah ibadah yang sama untuk memperjuangkan kemanusiaan yang sama,” ujar Tatang.

Menurutnya, Indonesia sebagai rumah bersama tidak dibangun melalui keseragaman, melainkan melalui kesediaan seluruh elemen bangsa untuk hidup berdampingan dalam keberagaman. Perbedaan identitas dan keyakinan semestinya menjadi kekayaan bangsa, bukan sumber permusuhan.

Tatang menilai masyarakat perlu menghindari sikap merasa paling benar hingga kehilangan rasa kemanusiaan terhadap orang lain. Sebab, keyakinan yang diyakini luhur seharusnya tercermin dalam perilaku yang menghormati martabat sesama.

“Jangan sampai kita begitu sibuk membela kebenaran kelompok sendiri hingga kehilangan rasa kemanusiaan terhadap orang lain. Sebab, apa artinya merasa paling benar dalam keyakinan, apabila kita masih membenci sesama manusia?” tuturnya.

Menutup pandangannya, Tatang mengajak masyarakat menjadikan nilai kemanusiaan sebagai jembatan untuk merawat persatuan Indonesia.

“Kita boleh berbeda dalam iman, berbeda dalam jalan pengabdian, dan berbeda dalam cara berdoa. Namun, jangan pernah berbeda dalam memperlakukan manusia secara manusiawi. Kemanusiaan adalah jembatan yang mempertemukan kita, dan persatuan adalah rumah yang harus kita rawat bersama,” pungkasnya.

Baginya, semangat Marhaenisme harus terus dihidupkan bukan untuk menyeragamkan manusia, melainkan memastikan setiap orang dapat hidup bermartabat, aman, dan dihormati di tengah keberagaman. Pesan tersebut sejalan dengan tema kegiatan pemutaran film Ageman, yakni “Berbeda dalam Keyakinan, Bersatu dalam Kemanusiaan, Bersama Membangun Kerukunan”. (hiro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *