KABUPATEN TANGERANG – Rektor Institut Agama Buddha Negeri (IABN) Sriwijaya Tangerang, Dr. Li. Edi Ramawijaya Putra, M.Pd., menegaskan komitmen institusinya untuk menghadirkan pendidikan tinggi keagamaan yang berkualitas, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta memberikan dampak nyata bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada acara Launching Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang yang dirangkaikan dengan peresmian Gedung Pusat Layanan Informasi Pendidikan, Rabu (21/10/2026).
Menurut Edi, peluncuran institut tersebut menandai babak baru dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat peran institusi dalam mempersiapkan generasi Indonesia Emas 2045.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Agama Republik Indonesia, Menteri Sekretaris Negara, Menteri PANRB, serta Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Drs. Supriyadi, M.Pd., atas dukungan dalam proses perubahan bentuk kelembagaan tersebut.
Edi menjelaskan, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2026, IABN Sriwijaya Tangerang resmi memasuki fase baru pengembangan pendidikan tinggi keagamaan Buddha. Ia berharap perubahan kelembagaan ini tidak hanya meningkatkan akses pendidikan, tetapi juga memperkuat kualitas lulusan yang memiliki kompetensi dan daya saing.
Usung Nilai Generasi Jaya
Sebagai rektor pertama yang dilantik Menteri Agama pada 15 September 2026, Edi menyampaikan bahwa IABN Sriwijaya Tangerang akan melakukan reorientasi pendidikan. Perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada pemenuhan kualifikasi akademik, tetapi juga pada pembentukan sikap, penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja serta masyarakat.
Komitmen tersebut dirumuskan melalui nilai inti atau core value “Generasi Jaya”, yakni Siap Bekerja, Siap Berkarya, dan Siap Mendunia.

Menurutnya, kehadiran para anggota Sangha, tokoh agama, pejabat pemerintah, pimpinan perguruan tinggi, dan mitra institusi dalam acara tersebut bukan sekadar menyaksikan peluncuran kampus, melainkan turut menjadi bagian dari sejarah pengembangan pendidikan tinggi keagamaan Buddha di Indonesia.
Ia juga menekankan bahwa pendidikan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi memiliki integritas, kejujuran, kompas moral, serta kepedulian sosial.
“Tanpa kedua hal tersebut, pengetahuan hanya simbol, tidak mencerminkan attitude yang memadai,” ujarnya, merujuk pada pentingnya kompas moral dan kejujuran dalam dunia pendidikan.
Gedung Baru Perkuat Layanan Pendidikan
Dalam kesempatan tersebut, Edi menjelaskan bahwa Gedung Pusat Layanan Informasi Pendidikan dibangun melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2025. Ia menyampaikan bahwa penggunaan anggaran pembangunan tersebut telah melalui pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Menurutnya, pembangunan gedung tersebut merupakan bentuk dukungan pemerintah melalui Kementerian Agama dan kementerian terkait terhadap pengembangan infrastruktur pendidikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Ia berharap keberadaan gedung tersebut dapat memperkuat pelayanan informasi pendidikan dan mendukung transformasi IABN Sriwijaya Tangerang menjadi perguruan tinggi yang berdampak.
Edi juga menyoroti tantangan global yang semakin kompleks, yang dikenal dengan istilah VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity). Dalam menghadapi kondisi tersebut, perguruan tinggi dituntut menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, integritas, dan kemampuan beradaptasi.
Ia turut mengajak seluruh pihak mendukung upaya pemerintah dalam menangani berbagai persoalan nasional, termasuk kebakaran hutan di Kalimantan dan bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Apresiasi terhadap Donatur dan Perjuangan Perubahan Status
Dalam sambutannya, Edi mengungkapkan bahwa perjalanan IABN Sriwijaya Tangerang merupakan hasil kontribusi berbagai pihak selama bertahun-tahun. Ia menyebut perjalanan institusi tersebut sebagai “celengan kebajikan”, yang menggambarkan akumulasi kebaikan, dukungan, dan pengabdian para pendahulu serta donatur.
Ia secara khusus menceritakan kontribusi Anwar Husen, seorang pandita Buddha yang semasa hidupnya bekerja sebagai loper koran dan menghibahkan tanah seluas 5.000 meter persegi di kawasan BSD untuk mendukung pengembangan institusi pendidikan tersebut.
Selain itu, Edi menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Buddha Suci Indonesia di bawah pimpinan Sugianto Kusuma atau Aguan atas kontribusinya dalam pembangunan gedung perkuliahan di BSD.
Ia juga mengapresiasi seluruh jajaran pimpinan kampus, dosen, tenaga kependidikan, senat, mahasiswa, dan alumni yang terlibat dalam proses perubahan bentuk kelembagaan. Menurutnya, proses tersebut memerlukan perjuangan panjang selama sekitar tiga tahun sejak pengajuan proposal hingga terbitnya Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2026.
Dorong Kolaborasi dan Dukungan Pemerintah
Edi menegaskan bahwa pengembangan IABN Sriwijaya Tangerang membutuhkan kolaborasi antara pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan para mitra. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk membangun lingkungan akademik yang mendorong kreativitas, dialog, dan tanggung jawab.

Ia juga berharap adanya dukungan kebijakan pemerintah untuk memperkuat kapasitas infrastruktur dan sumber daya manusia kampus, sehingga institusi tersebut dapat terus berkembang dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Menutup sambutannya, Edi menyampaikan terima kasih kepada Menteri Agama dan seluruh tamu undangan yang telah meluangkan waktu menghadiri kegiatan tersebut. Ia mengajak seluruh sivitas akademika dan pemangku kepentingan membangun kampus dengan semangat kebersamaan, ketulusan, serta pengabdian.
Sambutan tersebut ditutup dengan seruan penyemangat bagi seluruh sivitas akademika, “Sriwijaya untuk semua! Jaya Sriwijaya!” sebagai penegasan komitmen bersama untuk membawa IABN Sriwijaya Tangerang menuju masa depan pendidikan tinggi yang semakin maju dan berdampak. (rafian)
