24 Finalis Putra Putri Budaya Indonesia 2026 Sampaikan Gagasan Pelestarian Budaya dalam Pidato Satu Menit

Berita5,313 views

JAKARTA BARAT – Persaingan dalam Grand Final Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia 2026 semakin ketat. Dari total 48 finalis yang mewakili berbagai daerah di Indonesia, dewan juri menetapkan 24 peserta yang berhasil melaju ke babak 24 besar, terdiri atas 12 putra dan 12 putri budaya Indonesia 2026.

Pengumuman tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian acara yang berlangsung di Grand Ballroom Hotel Mega Anggrek, Jakarta Barat, Sabtu (17/10/2026).

Para peserta yang lolos berasal dari berbagai provinsi, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Mereka selanjutnya berkesempatan melanjutkan perjuangan untuk memperebutkan gelar Putra dan Putri Budaya Indonesia 2026.

12 Besar Putra Budaya Indonesia 2026

Berikut 12 finalis putra yang berhasil melaju ke babak berikutnya:

  1. Reyhan Ardiansyah – Jawa Timur
  2. Fachri Sumaila – Sulawesi Utara
  3. M. Sahrun Mubarak – Sulawesi Tenggara
  4. Apriansya Putra – Bengkulu
  5. Christian Yogi – Kalimantan Barat
  6. M. Anggara – Kalimantan Tengah
  7. Steve Indika Kosasih – Bangka Belitung
  8. Ahmad Awwaludin – Kalimantan Timur
  9. Abdus Salam – Kalimantan Selatan
  10. M. Sulthon – DKI Jakarta 2
  11. Tubagus Ahmad – Banten
  12. Teus Tabuni – Papua Pegunungan

12 Besar Putri Budaya Indonesia 2026

Sementara itu, berikut 12 finalis putri yang berhasil melaju ke babak berikutnya:

  1. Priscilla Aurelia – Jawa Timur
  2. Veronica Yaennita – Kalimantan Selatan
  3. Gillian Fensienna – Bangka Belitung
  4. Anisa Suliyanti – Kalimantan Timur
  5. Umayira Malika – Gorontalo
  6. Arsthy Nonce – Papua Barat Daya
  7. Lingga Khairunnisa – DKI Jakarta 2
  8. Hafizha – Sumatera Utara
  9. Fathiyah Puti Ramadhani – Riau
  10. Adinda Putri Kirana – Sumatera Selatan
  11. Annisa Dhya Pramesti – Sulawesi Tenggara
  12. Valensia Flora – Kalimantan Barat

Lolosnya 24 finalis ini menjadi langkah penting bagi para peserta untuk menunjukkan kemampuan, wawasan, karakter, dan kecintaan mereka terhadap kebudayaan Indonesia.

Ajang Putra Putri Budaya Indonesia tidak hanya menjadi kompetisi untuk memperebutkan gelar, tetapi juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.

Para finalis diharapkan mampu menjadi duta budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi, mengembangkan kreativitas, serta memanfaatkan teknologi dan media komunikasi modern untuk memperkenalkan kebudayaan Nusantara kepada generasi muda dan masyarakat internasional.

24 Finalis Putra Putri Budaya Indonesia 2026 Sampaikan Gagasan Pelestarian Budaya dalam Pidato Satu Menit

Sebanyak 24 finalis Putra Putri Budaya Indonesia 2026 menyampaikan gagasan dan program advokasi pelestarian budaya dalam sesi pidato singkat berdurasi satu menit pada Grand Final Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia 2026 di Grand Ballroom Hotel Mega Anggrek, Jakarta Barat, Sabtu (17/10/2026).

Dalam sesi tersebut, para finalis putra dan putri mendapat kesempatan untuk memaparkan pandangan mengenai tantangan pelestarian budaya sekaligus menawarkan gagasan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda.

Berbagai isu diangkat oleh peserta, mulai dari pelestarian bahasa daerah, pengenalan seni tradisional, pengembangan wastra Nusantara, pemanfaatan media sosial dan kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga repatriasi artefak budaya Indonesia.

Pidato singkat tersebut memperlihatkan beragam pendekatan yang dapat digunakan untuk menjadikan kebudayaan tidak hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga bagian dari kehidupan generasi muda saat ini.

Menggabungkan Tradisi, Pendidikan, dan Teknologi

Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pentingnya mengubah pola pelestarian budaya agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Reyhan Ardiansyah dari Jawa Timur, misalnya, memperkenalkan gagasan bertajuk “Aksara, Aksi Lestarikan Kebudayaan Daerah di Indonesia”.

Ia menyoroti pentingnya membangun kebanggaan terhadap bahasa daerah, mengembangkan karya batik yang inovatif, serta menghadirkan edukasi budaya yang menarik bagi generasi muda.

Dari Sulawesi Utara, Fachri Sumaila mengangkat advokasi yang berfokus pada tradisi lokal dan keterlibatan generasi muda dalam mengangkat kekayaan Nusantara. Ia mengajak anak muda merawat nilai tradisi, mengembangkan potensi budaya, dan memanfaatkan kreativitas digital untuk memperluas jangkauan promosi kebudayaan.

Sementara itu, sejumlah finalis putri menyoroti pentingnya pendidikan budaya sejak dini. Priscilla Aurelia dari Jawa Timur menekankan perlunya memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengenal dan memahami kebudayaan agar tumbuh rasa cinta terhadap identitas mereka.

Gagasan serupa disampaikan melalui pendekatan edukasi interaktif, pengenalan budaya di lingkungan keluarga, serta pemanfaatan teknologi sebagai sarana untuk mendekatkan kebudayaan kepada generasi muda.

Media Sosial sebagai Sarana Promosi Budaya

Pemanfaatan media sosial menjadi salah satu tema yang banyak mendapat perhatian. Para finalis menilai platform digital dapat digunakan untuk memperkenalkan bahasa daerah, tarian tradisional, pakaian adat, cerita rakyat, dan berbagai tradisi kepada masyarakat yang lebih luas.

Christian Yogi dari Kalimantan Barat menyampaikan bahwa generasi muda perlu mengambil peran lebih aktif, bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pelaku yang menghidupkan dan mewariskan kebudayaan.

Menurut gagasan yang disampaikannya, generasi muda memiliki peluang untuk mengembangkan warisan budaya melalui kreativitas tanpa harus meninggalkan nilai-nilai tradisi.

Umayira Malika dari Gorontalo juga mengajak generasi muda memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan tarian, bahasa, dan tradisi Indonesia. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas pengenalan budaya sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas bangsa.

Di sisi lain, finalis dari Kalimantan Timur menekankan pentingnya perubahan paradigma, yakni menempatkan generasi muda bukan hanya sebagai penerima warisan budaya, melainkan sebagai pelaku yang turut mengembangkan dan mempromosikannya.

Mengangkat Kearifan Lokal dan Identitas Daerah

Sejumlah finalis turut menampilkan kekhasan budaya daerah masing-masing melalui gagasan advokasi yang mereka bawa.

M. Sahrun Mubarak dari Sulawesi Tenggara mengangkat pentingnya penciptaan karya seni dan budaya sebagai salah satu cara menjaga keberlanjutan tradisi. Ia mengajak generasi muda untuk menghasilkan karya yang berakar pada kekayaan budaya daerah.

Dari Kalimantan Selatan, Veronica Yaennita menekankan bahwa budaya tidak cukup hanya dilihat atau dikenal. Kebudayaan perlu dipahami dan dirasakan agar tumbuh kecintaan yang mendorong masyarakat untuk melestarikannya.

Abdus Salam dari Kalimantan Selatan mengangkat advokasi “Gama Gaya, Gaya Muda Berbudaya”, yang mendorong penggunaan wastra sebagai bagian dari gaya hidup generasi muda. Menurut gagasan tersebut, pelestarian budaya dapat dimulai melalui kebiasaan sehari-hari, termasuk mengenakan produk budaya lokal dan mendukung perekonomian para pelaku usaha daerah.

Sementara itu, Hafizha dari Sumatera Utara menyoroti pelestarian seni tari melalui pendekatan culture experience dan culture knowledge. Kedua pendekatan tersebut menekankan pentingnya pengalaman langsung dan penyebaran pengetahuan melalui media sosial maupun sarana visual.

Fathiyah Puti Ramadhani dari Riau juga mengajak generasi muda memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan budaya, bukan justru melupakan identitas daerah dan bangsa.

Menjaga Warisan Budaya untuk Masa Depan

Selain pendidikan dan promosi digital, pidato para finalis juga menyinggung pentingnya menjaga makna asli warisan budaya agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.

Salah satu gagasan yang diangkat adalah repatriasi, yakni pengembalian benda atau artefak budaya ke negara atau komunitas asalnya. Isu tersebut disampaikan dalam konteks upaya mengembalikan warisan leluhur Indonesia, termasuk yang berkaitan dengan Papua.

Finalis lainnya mengangkat gagasan Tapak Budaya, sebuah pendekatan yang mengajak generasi muda bertemu langsung dengan pelaku budaya dan mengalami kebudayaan melalui kegiatan nyata. Pendekatan ini bertujuan agar budaya tidak hanya dipahami melalui cerita, tetapi juga melalui pengalaman dan interaksi.

Adapula gagasan yang menekankan pentingnya mengintegrasikan pendidikan, promosi, inovasi, dan apresiasi dalam program pelestarian budaya, termasuk memperluas akses anak-anak terhadap seni dan tradisi.

Budaya sebagai Identitas dan Tanggung Jawab Bersama

Sesi pidato satu menit tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian Grand Final Putra Putri Budaya Indonesia 2026. Melalui kesempatan itu, para finalis tidak hanya menunjukkan kemampuan berbicara di depan publik, tetapi juga menyampaikan gagasan mengenai kontribusi yang dapat mereka berikan bagi kebudayaan Indonesia.

Beragam advokasi yang dipaparkan memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui banyak jalur, mulai dari pendidikan keluarga, kegiatan komunitas, penciptaan karya seni, pengembangan produk lokal, hingga pemanfaatan teknologi digital.

Pesan yang mengemuka dari sesi tersebut adalah bahwa kebudayaan membutuhkan generasi yang tidak hanya bangga terhadap warisannya, tetapi juga bersedia mempelajari, mengembangkan, dan meneruskannya.

Melalui ajang ini, Putra Putri Budaya Indonesia diharapkan dapat menjadi ruang bagi lahirnya duta-duta budaya muda yang mampu menjembatani tradisi dengan perkembangan zaman serta memperkenalkan kekayaan Nusantara kepada masyarakat luas.

Ursula Butar Butar Tampilkan Dua Lagu

Sambil menunggu dewan juri melakukan musyawarah untuk menentukan peserta yang melaju ke babak berikutnya, suasana acara dimeriahkan oleh penampilan Ursula Butar Butar.

Ursula merupakan peraih medali emas Malaysian Choral Eisteddfod (MCE) di Malaysia dan medali emas Pesparawi Nasional XIII kategori Vocal Solo yang diselenggarakan di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dalam kesempatan tersebut, ia membawakan dua lagu untuk menghibur para tamu undangan dan peserta yang hadir.

Penampilan tersebut menjadi selingan hiburan di tengah ketegangan para finalis yang menantikan hasil penilaian dewan juri.

Enam Besar Putra Budaya Indonesia 2026

Setelah melalui proses penilaian, dewan juri menetapkan lima pasangan finalis berdasarkan hasil penjurian. Satu pasangan tambahan ditentukan melalui mekanisme fast track vote, sehingga enam finalis putra dan enam finalis putri berhasil melanjutkan kompetisi.

Berikut enam finalis putra yang berhasil melaju ke babak berikutnya:

  1. Reyhan Ardiansyah – Jawa Timur
  2. Abdus Salam – Kalimantan Selatan
  3. Apriansya Putra – Bengkulu
  4. Christian Yogi – Kalimantan Barat
  5. Fachri Sumaila – Sulawesi Utara
  6. M. Anggara – Kalimantan Tengah

Enam Besar Putri Budaya Indonesia 2026

Sementara itu, enam finalis putri yang berhasil melaju ke babak berikutnya adalah:

  1. Priscilla Aurelia – Jawa Timur
  2. Veronica Yaennita – Kalimantan Selatan
  3. Fathiyah Puti Ramadhani – Riau
  4. Anisa Suliyanti – Kalimantan Timur
  5. Lingga Khairunnisa – DKI Jakarta 2
  6. Gillian Fensienna – Bangka Belitung

Persaingan Menuju Gelar Juara

Terpilihnya enam besar putra dan enam besar putri menandai semakin dekatnya penentuan sosok yang akan menyandang gelar Putra dan Putri Budaya Indonesia 2026. (rafian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *