Menlu RI dan Australia Perkuat Koordinasi Kawasan, Bahas Ketahanan Indo-Pasifik dan Reformasi Multilateral

Berita18 views

Jakarta, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arrmanatha Nasir, yang akrab disapa Tata, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, pada (22/10/2026).

Pertemuan tersebut membahas penguatan hubungan bilateral, peningkatan ketahanan kawasan Indo-Pasifik, serta dorongan bersama untuk mereformasi sistem kerja sama multilateral agar lebih efektif dan responsif terhadap dinamika global.

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya Indonesia dan Australia memperkuat komunikasi diplomatik serta memperluas koordinasi dalam menghadapi berbagai tantangan kawasan, mulai dari Asia Tenggara hingga Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Usai pertemuan, Tata mengatakan kedua negara bertukar pandangan mengenai situasi kawasan dan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk memperkuat ketahanan regional melalui berbagai mekanisme kerja sama yang telah tersedia.

“Bagaimana kita bisa berkontribusi terhadap membuat ketahanan kawasan dengan berbagai mekanisme yang ada, baik itu di ASEAN. Selain ASEAN, kita juga sama-sama menjadi anggota IORA (Asosiasi Negara-negara Pesisir Samudra Hindia) dan juga menjadi anggota PIF (Forum Kepulauan Pasifik). Jadi, kita bertukar pikiran mengenai berbagai hal seperti itu,” kata Tata.

Menurut dia, keterlibatan Indonesia dan Australia dalam sejumlah forum regional memberikan ruang strategis bagi kedua negara untuk menyelaraskan pandangan, memperkuat dialog, dan mendorong kerja sama lintas kawasan.

Indonesia dan Australia memiliki kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas regional. Karena itu, penguatan komunikasi dan pemanfaatan forum multilateral dinilai penting untuk memastikan berbagai tantangan kawasan dapat ditangani melalui dialog, koordinasi, dan kerja sama yang konstruktif.

Dorong Reformasi Sistem Multilateral

Selain membahas dinamika kawasan, kedua menlu juga menyoroti perlunya pembenahan sistem kerja sama multilateral. Tata menegaskan bahwa Indonesia dan Australia memiliki pandangan yang sejalan mengenai kebutuhan untuk memperbaiki mekanisme multilateral agar mampu menjawab tantangan internasional yang terus berkembang.

“Tentu juga tadi saya sampaikan bahwa kita perlu juga berupaya sama-sama untuk mendorong reformasi di tingkat multilateral. Ini juga kita sepandangan bahwa sistem yang ada saat ini perlu kita perbaiki,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pembaruan tata kelola kerja sama internasional agar lebih efektif dalam mengakomodasi kepentingan negara-negara anggota dan merespons perubahan situasi global.

Bagi Indonesia dan Australia, koordinasi dalam forum multilateral menjadi salah satu jalur penting untuk memperjuangkan kepentingan bersama sekaligus memperkuat kontribusi kedua negara terhadap stabilitas dan perdamaian kawasan.

Perkuat Hubungan Bilateral Hingga Tingkat Teknis

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas upaya meningkatkan kerja sama bilateral. Tata mengatakan hubungan Indonesia dan Australia perlu terus diperkuat melalui komunikasi yang tidak hanya berlangsung di tingkat kepala negara dan menteri, tetapi juga di tingkat teknis antarlembaga.

“Tadi kita membahas berbagai macam isu dari kerja sama bilateral, bagaimana kita bisa terus meningkatkan komunikasi, tidak saja komunikasi yang sudah sangat baik pada level kepala negara dan tingkat menteri, namun juga pada tingkat teknis,” kata Tata.

Penguatan komunikasi lintas tingkat pemerintahan dinilai penting untuk menjaga kesinambungan hubungan kedua negara, memperlancar koordinasi kebijakan, serta memastikan komunikasi politik dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama yang konkret.

Tata menegaskan, hubungan Indonesia dan Australia ditopang oleh tingkat kepercayaan yang kuat di antara para pemimpin kedua negara maupun di tingkat menteri.

Ia menyebut pertemuan tersebut juga mencerminkan komitmen Australia untuk terus meningkatkan hubungan dengan Indonesia, yang dipandang sebagai mitra penting bagi Canberra.

“Pertemuan pertama yang ingin menunjukkan bahwa komitmen dari Australia untuk terus meningkatkan hubungannya dengan Indonesia. Untuk melihat bahwa Indonesia adalah negara yang sangat khusus buat Australia dan ada trust yang tinggi di antara dua kepala negara dan tentunya juga di tingkat para menteri. Itu yang tadi kita bahas,” ujarnya.

Kepercayaan tersebut menjadi modal penting bagi kedua negara untuk menjaga komunikasi yang terbuka, memperkuat koordinasi, dan membangun kemitraan yang mampu merespons kepentingan bersama di tengah perubahan lingkungan strategis kawasan.

Australia Siap Mendengarkan Kebutuhan Indonesia

Tata juga mengungkapkan bahwa Australia menyatakan kesiapan untuk mendengarkan persoalan yang dihadapi Indonesia apabila diperlukan dukungan atau bantuan.

“Tadi ditekankan bahwa apa pun isu yang ada dihadapi oleh Indonesia dan perlu bantuan, mereka akan siap untuk mendengar,” kata Tata.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya ruang bagi kedua negara untuk terus memperkuat komunikasi dalam menangani berbagai persoalan yang menjadi perhatian Indonesia. Namun, kesiapan untuk mendengarkan tersebut tidak serta-merta berarti adanya komitmen bantuan konkret untuk persoalan tertentu.

Secara keseluruhan, pertemuan Tata dan Penny Wong menegaskan pentingnya menjaga hubungan Indonesia–Australia melalui dialog yang berkelanjutan, penguatan kerja sama bilateral, serta koordinasi dalam berbagai forum regional dan multilateral.

Di tengah dinamika kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompleks, komunikasi diplomatik yang intensif dan kepercayaan antarpemerintah menjadi elemen penting untuk menjaga stabilitas, memperluas ruang kerja sama, dan memastikan kepentingan kedua negara tetap terakomodasi dalam hubungan yang saling menguntungkan.

Ervinna/DSR