Rumah Moderasi Penjaringan Diresmikan, Tokoh Lintas Agama Satukan Suara Rawat Bhinneka Tunggal Ika

Berita9,575 views

JAKARTA — Rumah Moderasi Penjaringan menggelar Kick Off Deklarasi dan Dialog Kebangsaan bertajuk “Dari Penjaringan untuk Indonesia: Merawat Bhinneka Tunggal Ika” di Aula Lantai 5 Kantor Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka menyambut 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menjadi ruang bersama untuk memperkuat kerukunan umat beragama, merawat keberagaman, serta meneguhkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus rumah ibadah lintas agama, serta berbagai elemen masyarakat. Kehadiran lintas elemen tersebut menjadi gambaran bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui seremoni, tetapi juga diwujudkan melalui komitmen bersama menjaga kehidupan sosial yang rukun di tengah keberagaman.

Sejumlah tokoh dan pejabat hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Tenaga Ahli Gubernur DKI Jakarta Bidang Keutamaan dan Kerukunan H. Sulton Mu’minah, M.I.Kom.; Kepala Balai Litbang Agama Jakarta Irhason, S.S., M.Ed.; Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Utara H. Mawardi Abdul Gani, S.Ag., M.Pd.; serta Ketua FKUB Jakarta Utara Drs. KH. Sodikin Marsudi.

Hadir pula Camat Penjaringan Darmawan, S.IP., M.Si.; Wakapolsek Metro Penjaringan Kompol Tomb Pea Indra R.S., S.H., M.H.; Babinsa Penjaringan Serma Kastono; Kepala KUA Penjaringan Muhtar Luthfi, S.Ag.; serta unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Penjaringan.

acara tersebut juga melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama dari 6 agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Perwakilan pengurus rumah ibadah, mulai dari masjid, vihara, gereja, pura hingga klenteng, turut hadir dalam kegiatan.

acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh seluruh peserta yang hadir, dilanjutkan sambutan dari Kepala Balai Litbang Agama Jakarta

Balai Litbang Agama Jakarta: Rumah Moderasi Penjaringan Harus Jadi Ekosistem Kerukunan dan Pemberdayaan

Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, Irhason, S.S., M.Ed., menilai keberadaan Rumah Moderasi Penjaringan memiliki peran strategis dalam mengelola dan memperkuat modal sosial yang telah tumbuh secara alami di tengah keberagaman masyarakat. Irhason mengapresiasi inisiatif masyarakat dan para pemangku kepentingan di Penjaringan yang berupaya membangun ekosistem kerukunan lintas agama, suku dan etnis.

Menurutnya, hubungan sosial yang telah terbentuk di tengah masyarakat merupakan modal sosial yang sangat berharga. Namun, modal tersebut perlu dikelola secara sistematis agar tidak berhenti pada kegiatan yang bersifat seremonial.

“Hubungan yang sudah ada, built-in di dalam masyarakat, kekuatan lintas suku, lintas etnis, lintas agama sudah terbangun. Ini merupakan modal sosial,” ujar Irhason.

Ia menekankan, Rumah Moderasi diharapkan menjadi wadah untuk membingkai sekaligus memperkuat hubungan sosial yang telah tumbuh secara alami tersebut.

“Perlu ada sistematisasi dalam merawat investasi modal sosial ini secara struktur, sehingga potensinya diharapkan nanti bukan hanya kegiatan-kegiatan semacam yang bersifat seremonial, tapi juga merajut hubungan yang harmonis,” katanya.

Lebih jauh, Irhason berharap Rumah Moderasi Penjaringan tidak hanya berfungsi sebagai ruang dialog dan penguatan kerukunan umat beragama, tetapi juga berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan ekonomi masyarakat lintas agama.

Menurutnya, keberagaman sosial dan budaya yang dimiliki Penjaringan merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan bersama apabila dikelola secara terstruktur.

“Termasuk diharapkan nantinya kiranya ada ekosistem ekonomi masyarakat lintas agama,” ujarnya.

Ia menyebut keberadaan Rumah Moderasi sebagai sarana untuk membangun milestone atau tahapan penguatan hubungan sosial masyarakat, sehingga terbentuk ekosistem yang tidak hanya kuat secara sosiokultural, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Belajar dari Model Desa Kerukunan

Dalam sambutannya, Irhason juga mengungkapkan pengalaman Balai Litbang Agama Jakarta dalam menginisiasi model kerukunan di Pabuaran yang pernah menjadi salah satu percontohan desa kerukunan.

Ia menjelaskan, harmonisasi masyarakat di wilayah tersebut tumbuh dari interaksi sosial yang sederhana dan kedekatan berdasarkan kesamaan aktivitas maupun hobi.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kohesi sosial dapat tumbuh dari ruang-ruang interaksi masyarakat yang kemudian diarahkan ke kegiatan yang lebih positif.

“Dari hobi yang disebut, terbangun rasa empati sosial yang terjalin. Dalam perjalanannya, ini diarahkan ke hal yang positif,” jelasnya.

Irhason menilai pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Penjaringan dalam mengembangkan model kerukunan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat.

Perlu Sinergi Lintas Instansi

Irhason juga menegaskan bahwa pembangunan Rumah Moderasi membutuhkan dukungan dan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan, KUA, TNI, Polri, tokoh agama hingga masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa keberadaan Rumah Moderasi untuk sementara dapat difasilitasi di lingkungan Kecamatan Penjaringan sebelum nantinya dikembangkan menjadi ruang khusus yang dapat menjadi rujukan masyarakat lintas agama.

“Semoga nanti ke depannya ada rumah moderasi tersendiri yang menjadi rujukan atau tempat curhat teman-teman lintas agama,” katanya.

Ia berharap para pemangku kepentingan dapat membuka ruang bagi masyarakat Penjaringan untuk menyampaikan aspirasi, sekaligus bersama-sama mengelola potensi keberagaman yang dimiliki wilayah tersebut.

Menurut Irhason, modal sosial dan kultural yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan persoalan. Sebaliknya, apabila dikelola melalui dialog, kolaborasi dan kelembagaan yang kuat, keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang harmonis.

“Modal sosial kultural ini, kohesi sosial ini perlu kita rajut, perlu kita kemas secara struktur dalam naungan Rumah Moderasi,” tegasnya.

Ia berharap keberadaan Rumah Moderasi Penjaringan pada akhirnya mampu memperkuat kehidupan sosial masyarakat dan menjadi bagian dari kontribusi menuju Indonesia Emas 2045.

“Semoga dengan hadirnya Rumah Moderasi nantinya akan membangun keinsanan kita yang kuat sehingga sosiokultur masyarakat yang ada dapat mewujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkas Irhason.

Camat Penjaringan: Dialog Tatap Muka Penting untuk Merawat Kerukunan di Tengah Keberagaman

Camat Penjaringan Darmawan, S.IP., M.Si., mengapresiasi pelaksanaan Kick Off Deklarasi dan Dialog Kebangsaan sebagai langkah awal memperkuat komunikasi dan kerukunan masyarakat lintas agama di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara. Darmawan mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda perdana yang digagas sejumlah elemen masyarakat dan penyuluh keagamaan untuk mempertemukan berbagai unsur masyarakat di Kecamatan Penjaringan.

Menurutnya, konsep moderasi beragama yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut pada dasarnya mengajarkan masyarakat untuk mengambil sikap jalan tengah, tidak terjebak pada pandangan ekstrem. Ia menilai prinsip tersebut relevan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Penjaringan yang memiliki keberagaman suku, etnis dan agama.

“Moderasi itu sikap dan pandangan yang di tengah, tidak terlalu ekstrem kiri, tidak terlalu ekstrem kanan. Sikap dan pandangan kita di jalan tengah,” katanya.

Darmawan menekankan pentingnya membangun sikap saling memahami dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, komunikasi secara langsung menjadi salah satu cara untuk menghindari kesalahpahaman yang kerap terjadi dalam komunikasi digital.

Ia mencontohkan penggunaan media sosial yang terkadang menimbulkan perbedaan tafsir karena komunikasi hanya dilakukan melalui tulisan tanpa melihat ekspresi dan konteks pembicaraan.

“Sekarang media sosial luar biasa, tapi suka salah paham. Penginnya ngumpul, ketemu muka, melihat, nah, itulah rasa yang sebenarnya,” ujarnya.

Menurut Darmawan, pertemuan tatap muka dapat memperkuat hubungan sosial karena masyarakat dapat saling mengenal, berkomunikasi dan memahami karakter satu sama lain.

Dialog Jadi Kunci Menjaga Keberagaman

Darmawan menyebut Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, bangsa dan agama. Kondisi tersebut, kata dia, membutuhkan upaya berkelanjutan untuk menjaga hubungan antar masyarakat.

“Negara kita beragam, suku, bangsa, agama, ini perlu dijaga dengan cara-cara tertentu. Dialog, komunikasi, ngumpul, seperti ini,” katanya.

Ia menilai rasa saling memahami tidak dapat dibangun secara instan. Karena itu, forum dialog seperti Rumah Moderasi diperlukan sebagai ruang untuk mempertemukan masyarakat dan memperkuat kohesi sosial.

Darmawan juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi negatif yang beredar di media sosial.

Menurutnya, komunikasi langsung dapat menjadi sarana untuk membangun kembali hubungan sosial yang terkadang renggang akibat kesalahpahaman.

Apresiasi Penggagas Rumah Moderasi

Sebagai tuan rumah, Darmawan menyampaikan apresiasi kepada para penggagas kegiatan yang telah menginisiasi pertemuan lintas elemen tersebut. Ia berharap kegiatan tidak berhenti sebagai agenda seremonial dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi dapat dilanjutkan dengan komunikasi dan kegiatan bersama secara berkelanjutan.

“Saya berharap kegiatan ini ada hasilnya, terus ada komunikasi terus,” ujarnya.

Darmawan juga menyampaikan bahwa kegiatan semacam itu sebelumnya pernah dilakukan ketika dirinya bertugas di wilayah Papanggo. Menurutnya, kegiatan pertemuan lintas masyarakat yang dilakukan secara rutin dapat menjadi sarana efektif untuk memperkuat hubungan sosial.

Ia berharap Rumah Moderasi Penjaringan dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk membangun komunikasi, memperkuat toleransi dan merawat semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Kakankemenag Jakarta Utara: Rumah Moderasi Penjaringan Jadi Komitmen Merawat Kebersamaan dari Tingkat Akar Rumput

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Utara H. Mawardi Abdul Gani, S.Ag., M.Pd., menegaskan keberadaan Rumah Moderasi Penjaringan merupakan bagian dari upaya membangun kolaborasi dan kebersamaan antarumat beragama dari tingkat akar rumput.

Mawardi mengatakan Penjaringan layak mendapat apresiasi karena dinilai memiliki potensi besar dalam membangun kerukunan masyarakat. Menurutnya, perintisan Rumah Moderasi di Penjaringan merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk KUA, penyuluh agama, pemerintah kecamatan, tokoh agama dan masyarakat.

“Ini merupakan bagian dari upaya untuk membangun kolaborasi, membangun kebersamaan antara umat beragama yang ada di Penjaringan,” ujar Mawardi.

Ia mengatakan gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti di Penjaringan, tetapi dapat berkembang ke kecamatan lain di Jakarta Utara, DKI Jakarta hingga tingkat nasional.

Mawardi menjelaskan, konsep Rumah Moderasi dipilih sebagai wadah bersama untuk memperkuat komunikasi dan komitmen antarumat beragama. Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena kerukunan harus dibangun langsung di tengah masyarakat.

“Mulai dari Penjaringan kita buat komitmen di tingkat grassroots, di tingkat yang paling bawah, agar komitmen bersama itu benar-benar dilakukan, bukan cuma sekadar oleh perwakilan,” katanya.

Indonesia Jadi Contoh Merawat Keberagaman

Dalam sambutannya, Mawardi menyoroti besarnya keberagaman Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, suku, bahasa dan komunitas keagamaan. Menurutnya, keberagaman tersebut sekaligus menjadi kekuatan dan tantangan dalam mempertahankan persatuan bangsa.

Ia mengatakan Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam merawat kebersamaan di tengah keberagaman. Karena itu, menurutnya, berbagai negara dapat melihat Indonesia sebagai salah satu contoh dalam membangun kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bingkai negara kesatuan.

“Bagaimana Indonesia merawat kebersamaan, bagaimana Indonesia merawat kerukunan, bagaimana Indonesia merawat keharmonisan dari sekian banyak suku, dari sekian banyak agama,” ujarnya.

Mawardi menilai kondisi geografis dan demografis Indonesia memiliki potensi kerentanan terhadap perpecahan apabila tidak diimbangi dengan komitmen kebangsaan dan penguatan kerukunan.

Karena itu, ia menilai pilihan para pendiri bangsa terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan fondasi penting dalam menjaga persatuan.

“Pilihan yang tepat ini, Pancasila sebagai dasar negara, NKRI tempat kita bersatu padu, menjadi pilihan yang tepat agar negara kita tetap menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Komitmen Lintas Agama Jelang HUT ke-81 RI

Mawardi menilai momentum menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi kesempatan penting untuk kembali mengingat semangat para pendiri bangsa dalam membangun negara yang mampu menaungi seluruh kelompok masyarakat.

Ia mengapresiasi kehadiran tokoh-tokoh agama dari berbagai agama dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran mereka menunjukkan bahwa komitmen menjaga persatuan harus dibangun bersama dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Hari ini hadir kita bersama semua, dari tokoh-tokoh agama yang ada, untuk berkomitmen bersama merajut cinta kasih, merajut kebersamaan untuk Indonesia, untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Mawardi juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, jajaran Kecamatan Penjaringan, Balai Litbang Agama Jakarta serta seluruh pihak yang mendukung perintisan Rumah Moderasi.

Ia berharap gerakan yang dimulai dari Penjaringan tersebut dapat menjadi model yang berkembang ke wilayah lain.

“Mudah-mudahan juga dimulai dari Penjaringan untuk Jakarta dan untuk Indonesia,” pungkasnya.

Doa Lintas Agama Perkuat Pesan Kebersamaan dan Toleransi

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin secara bergantian oleh enam tokoh agama, yakni perwakilan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Doa lintas agama tersebut menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap keberagaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus memperkuat pesan persatuan, kerukunan dan toleransi.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan dan penandatanganan Deklarasi Kebangsaan. Pembacaan deklarasi dipimpin oleh Wakapolsek Metro Penjaringan Kompol Tomb Pea Indra R.S., S.H., M.H., dan diikuti oleh seluruh hadirin.

Deklarasi Kebangsaan Rumah Moderasi Penjaringan memuat delapan komitmen sebagai landasan bersama masyarakat dalam merawat persatuan dan kerukunan. Komitmen tersebut mencakup kesetiaan pada Pancasila dan UUD 1945 serta menjaga keutuhan NKRI; merawat toleransi dan saling menghormati antarumat beragama serta menolak intoleransi, diskriminasi dan kekerasan; menjaga ruang digital dari disinformasi dan ujaran kebencian; serta memperkuat solidaritas sosial dan gotong royong lintas agama, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan.

Komitmen berikutnya meliputi ekoteologi melalui kepedulian terhadap lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana ekologis; menjaga kearifan lokal dan budaya Nusantara sebagai jati diri bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika; mendidik dan memberdayakan generasi muda lintas iman sebagai investasi menuju Indonesia Emas 2045; serta memastikan keberlanjutan gerakan Rumah Moderasi melalui aksi nyata yang terukur dan berkelanjutan. Deklarasi yang ditetapkan di Penjaringan pada 12 Agustus 2026

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan orasi dan refleksi kebangsaan yang disampaikan sejumlah tokoh lintas agama dan elemen masyarakat sebagai ikhtiar bersama untuk memperkuat semangat persatuan, toleransi dan kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Forum tersebut menghadirkan Aryanto alias Togog, mantan Warga Binaan Pemasyarakatan tindak pidana terorisme; Leni Bahar, tokoh perempuan Penjaringan; Ida Bagus Kadek Dayana, S.H., tokoh agama Hindu; Yang Mulia Bhikkhu Duta Nagara, S.Ag., tokoh agama Buddha; Romo Marselus Lami, C.P., tokoh agama Katolik; Pendeta Dr. Widya Tanto, M.Th., tokoh agama Kristen; serta Ustaz Karyudi Muhammad, S.Ag., tokoh agama Islam.

Orasi Lintas Agama Teguhkan Komitmen Merawat Bhinneka Tunggal Ika

Orasi kebangsaan pertama disampaikan Ida Bagus Kadek Dayana, S.H., tokoh agama Hindu, yang mengajak seluruh masyarakat menghidupkan kembali semangat perjuangan para pahlawan dalam menjaga persatuan bangsa. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan yang dibayar dengan air mata, keringat dan pengorbanan para pejuang. Menurutnya, tantangan bangsa saat ini bukan lagi menghadapi penjajah dengan senjata, melainkan melawan perpecahan, kebodohan dan ego kepentingan pribadi. “Perbedaan itu bukan alasan untuk saling mencaci, bukan pula tembok pemisah. Perbedaan adalah pelangi yang merajut keindahan Indonesia,” ujarnya. Ia mengajak generasi muda dan seluruh masyarakat menjadikan Pancasila sebagai kompas kehidupan berbangsa serta membuktikan kecintaan kepada Indonesia melalui tindakan nyata.

Selanjutnya, Romo Marselus Lami, C.P., tokoh agama Katolik, menyebut deklarasi Rumah Moderasi Penjaringan sebagai bentuk kesadaran kebangsaan yang lahir dari masyarakat dan tidak sekadar menjadi seruan seremonial. Menurutnya, keberagaman agama, etnis dan kondisi sosial ekonomi merupakan realitas bangsa yang harus dirawat melalui semangat persaudaraan. Ia menyebut NKRI, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila sebagai empat pilar yang menjadi fondasi Rumah Moderasi. Sementara itu, Aryanto alias Togog, mantan Warga Binaan Pemasyarakatan tindak pidana terorisme, membagikan pengalaman masa lalunya saat terlibat dalam kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Setelah menjalani proses hukum dan pembinaan, ia menyatakan kembali berkomitmen kepada NKRI dan kini aktif membangun silaturahmi serta kegiatan keagamaan di lingkungan tempat tinggalnya. Ia mendukung keberadaan Rumah Moderasi sebagai ruang untuk memperkuat silaturahmi lintas agama dan budaya sekaligus mencegah berkembangnya paham radikal.

Orasi berikutnya disampaikan Yang Mulia Bhikkhu Duta Nagara, S.Ag., tokoh agama Buddha, yang menekankan bahwa kemerdekaan merupakan tanggung jawab untuk menjaga persatuan dan menghormati keberagaman. Ia mengangkat nilai mettā atau cinta kasih, karuṇā atau welas asih, serta ahiṃsā atau sikap tidak menyakiti sebagai nilai yang dapat memperkuat kehidupan harmonis. Menurutnya, Bhinneka Tunggal Ika tidak cukup hanya menjadi semboyan yang tertulis pada lambang negara, tetapi harus diwujudkan dalam pikiran, ucapan dan tindakan sehari-hari. Ia mengajak masyarakat mengisi kemerdekaan dengan toleransi, gotong royong dan kebajikan. “Berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kemanusiaan. Berbeda dalam budaya, tetap satu dalam Indonesia,” tuturnya.

Dari tokoh agama Kristen, Pendeta Dr. Widya Tanto, M.Th., menekankan pentingnya kasih sebagai landasan membangun hubungan antarmanusia. Ia mengatakan inti ajaran agama adalah mengasihi Tuhan dan sesama manusia, sehingga perbedaan suku, agama, bahasa maupun kondisi ekonomi tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh. Ia mengibaratkan keberagaman seperti sebuah taman yang akan semakin indah karena memiliki berbagai jenis tanaman dan bunga. Menurutnya, Rumah Moderasi merupakan salah satu bentuk implementasi nyata dari nilai kasih dengan membangun sikap saling menghormati, menolong dan mengasihi. Ia mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan bukan hanya sebagai kebebasan dari penjajahan, tetapi juga sebagai kemerdekaan dari kebencian dan sikap negatif yang dapat memecah persatuan.

Sementara itu, Ustaz Karyudi Muhammad, S.Ag., tokoh agama Islam sekaligus pengurus Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, menekankan pentingnya nilai tasāmuh atau toleransi dan tawassuth atau sikap moderat dalam kehidupan bermasyarakat. Ia mengingatkan bahwa perbedaan merupakan bagian dari ketetapan Tuhan dan seharusnya menjadi jalan untuk saling mengenal, sebagaimana pesan Al-Qur’an tentang keberagaman manusia agar saling mengenal. Ia menegaskan tidak ada pertentangan antara nilai-nilai Pancasila dan ajaran Islam, serta mendorong masyarakat untuk mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui kerja sama dan interaksi nyata antarpemeluk agama.

Adapun Leni Bahar, tokoh perempuan Penjaringan, menyoroti peran perempuan dalam merawat persatuan mulai dari lingkungan keluarga. Ia mengingatkan perjuangan tokoh-tokoh perempuan seperti R.A. Kartini, Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu dan Dewi Sartika sebagai teladan bahwa perempuan Indonesia memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa. Menurutnya, di tengah kemerdekaan yang telah memasuki usia 81 tahun, medan perjuangan telah berubah dari mengangkat senjata menjadi menjaga nilai-nilai kebangsaan, termasuk Bhinneka Tunggal Ika. “Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya yang tergambar di Garuda. Bhinneka Tunggal Ika adalah masakan di dapur kita, obrolan di posyandu, dan senyum saat berbeda pendapat tetapi tetap satu meja,” ujarnya. Ia mengajak kaum perempuan menjadi penenun persatuan dengan menjaga ucapan, menolak hoaks, memperkuat silaturahmi dan menanamkan cinta tanah air mulai dari keluarga.(rfn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *