MediaPers.com : JAKARTA SELATAN – Sekitar 500 orang mengikuti Aksi Damai 811 Rakyat Bela Indonesia yang digelar di Lapangan Hijau Masjid Agung Al-Azhar, Jalan Sisingamangaraja No. 1, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (8/11/2026).
Aksi yang dimulai sejak pukul 06.00 WIB tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional, tokoh agama, akademisi, serta berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas).
Kegiatan ini mengusung semangat persatuan dan menyuarakan lima tuntutan terkait kondisi bangsa, penegakan hukum, serta pengelolaan sumber daya dan aset negara.
Lima tuntutan utama yang disuarakan dalam aksi tersebut meliputi ajakan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu membela bangsa, melawan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara, melawan oligarki dan pengaruh Singapura, menuntut pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945 secara sepenuhnya, serta mendesak penegakan hukum secara konsisten sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA).
Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya Jimly Asshiddiqie selaku Ketua Dewan Pembina YPI Al-Azhar, Said Didu, Ferry Juliantono selaku Presiden Syarikat Islam, Prof. Dr. Haedar Nashir dari PP Muhammadiyah, Bachtiar Nasir selaku Pembina AQL Islamic Center, Adian Husaini, Tamsil Linrung, Fathurrahman Mahfudz, Muh. Zaitun Rasmin, serta sejumlah tokoh lainnya.
Dalam keterangannya kepada awak media sekitar pukul 06.36 WIB, Bachtiar Nasir menjelaskan bahwa lima tuntutan tersebut menjadi dasar gerakan untuk menyatukan masyarakat dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa.
Ia menyebutkan, aksi tersebut merupakan momentum berkumpulnya berbagai elemen masyarakat dan tokoh nasional untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka, sekaligus mengajak seluruh rakyat menjaga persatuan Indonesia.
Menurut Bachtiar, persoalan penegakan hukum, dugaan penyadapan, pengaruh oligarki, serta pengelolaan aset negara menjadi sejumlah isu yang perlu mendapat perhatian serius.
Ia juga menyampaikan rencana gerakan lanjutan secara nasional.
Menurutnya, para tokoh dan elemen masyarakat berencana kembali menggelar aksi besar bertajuk Rakyat Bela Indonesia di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada Minggu, 15 November 2026.
Dalam orasi kebangsaannya, Jimly Asshiddiqie menegaskan bahwa kehadiran masyarakat dalam aksi tersebut bukan didasari kebencian, melainkan kecintaan terhadap Tanah Air.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia dibangun melalui perjuangan dan persatuan berbagai suku, agama, serta latar belakang masyarakat.
Jimly juga menyoroti berbagai persoalan yang dinilainya masih menjadi tantangan bangsa, terutama menyangkut keadilan sosial, kejujuran, penegakan hukum, dan perlindungan hak-hak rakyat.
Sementara itu, tokoh nasional Said Didu dalam orasinya menyinggung persoalan oligarki dan dinamika politik nasional.
Ia menyampaikan dukungan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sekaligus mengingatkan pentingnya aparat negara berpegang pada Sapta Marga dan Tribrata.
Dwi Yulianti dari YPI Al-Azhar juga mengajak masyarakat untuk konsisten menyuarakan lima tuntutan serta mendorong agar gerakan tersebut berkembang menjadi gerakan nasional.
Rangkaian kegiatan diawali dengan salat Subuh berjamaah, dilanjutkan persiapan acara, pemutaran lagu-lagu kebangsaan, serta video yang menampilkan ulama dan tokoh nasional.
Acara resmi dibuka sekitar pukul 08.00 WIB, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz Ilhaq, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Rakyat Bela Indonesia, serta parade orasi kebangsaan dari sejumlah tokoh yang hadir.
Sekitar pukul 09.40 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan pernyataan sikap dan ditutup oleh pembawa acara. Seluruh peserta kemudian meninggalkan lokasi aksi dengan tertib.
Aksi tersebut turut diikuti berbagai elemen organisasi, antara lain Perisai Syarikat Islam, GRIB Jaya, AQL Tebet Utara, Pemuda Muslimin Indonesia, Majelis Sunan Kalijaga, Laskar Adat Betawi, SEMMI, serta Syarikat Perisai SI Kebon Pala.
Dalam kegiatan tersebut, peserta membawa bendera Merah Putih, bendera organisasi, spanduk, poster berisi lima tuntutan rakyat, serta mengenakan ikat kepala merah putih sebagai simbol semangat kebangsaan.
Penyelenggaraan aksi berlangsung aman dan kondusif. Tidak terdapat kejadian menonjol selama kegiatan berlangsung.
Rencana Aksi Lanjutan di Monas
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, para tokoh dan elemen masyarakat merencanakan Gerakan Rakyat Bela Indonesia pada Minggu, 15 November 2026, dengan titik aksi di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
Gerakan lanjutan tersebut diharapkan menjadi wadah konsolidasi berbagai elemen masyarakat untuk menyampaikan aspirasi terkait persatuan bangsa, pelaksanaan konstitusi, pengelolaan aset negara, dan penegakan hukum di Indonesia.
Rian/Red
