Fadli Zon Dorong Museum Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi, Revitalisasi dan Inovasi Jadi Kunci

Berita14 views

Jakarta, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia mempercepat transformasi museum di seluruh Indonesia agar tidak lagi dipandang semata-mata sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi berkembang menjadi pusat edukasi publik, ruang dialog kebudayaan, etalase peradaban, sekaligus penggerak baru pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, museum memiliki potensi strategis untuk memperkuat identitas bangsa sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi melalui pengembangan pariwisata budaya, industri kreatif, kegiatan edukasi, dan keterlibatan masyarakat.

Menurut Fadli, pembentukan Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian mandiri oleh Presiden Prabowo Subianto membuka ruang yang lebih terfokus untuk mempercepat agenda pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan diplomasi kebudayaan, termasuk pembenahan tata kelola permuseuman nasional.

“ Museum bukan sekadar tempat menyimpan artefak atau cost center, melainkan ruang hidup, pusat inspirasi, serta potensi besar sebagai new engine of economic growth. Jika ditata dan dikelola dengan baik lewat pameran yang standar, penceritaan (storyline) yang kuat, hingga sentuhan teknologi imersif, museum mampu menarik antusiasme publik yang sangat besar, khususnya generasi muda,” ujar Fadli dalam keterangannya, pada (20/10/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan saat Fadli memberikan sambutan dalam peringatan Hari Museum Indonesia 2026 di Museum Rudana, Ubud, Bali, yang diselenggarakan pada (19/10/2026). Tahun ini, peringatan Hari Museum Indonesia mengusung tema “Kebudayaan Soko Guru Bangsa, Museum sebagai Rumah Budaya”.

Revitalisasi Museum Harus Melampaui Pembenahan Fisik

Fadli menekankan, revitalisasi museum tidak cukup dilakukan melalui perbaikan bangunan dan penataan koleksi. Pembenahan harus mencakup kualitas kuratorial, kekuatan narasi sejarah, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta penyelenggaraan program yang mampu membangun keterlibatan publik secara berkelanjutan.

Museum, menurutnya, perlu dikembangkan sebagai ruang pembelajaran yang interaktif dan inklusif, sehingga pengunjung tidak hanya melihat benda koleksi, tetapi juga memahami konteks sejarah, nilai budaya, pengetahuan, dan perjalanan peradaban yang terkandung di dalamnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjawab tantangan permuseuman di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, terutama generasi muda yang semakin akrab dengan teknologi digital dan pengalaman belajar yang interaktif.

Melalui kurasi yang kuat, penyajian informasi yang mudah dipahami, serta pemanfaatan teknologi imersif, museum diharapkan mampu menghadirkan pengalaman yang lebih menarik tanpa mengesampingkan akurasi sejarah dan prinsip pelindungan warisan budaya.

Museum Sriwijaya Dharmakirti Jadi Contoh Pengembangan

Salah satu program yang disoroti Fadli adalah revitalisasi Museum Sriwijaya Dharmakirti di Muara Jambi, yang diresmikan pada Agustus 2026. Museum tersebut disebut menjadi salah satu contoh konkret upaya menghidupkan kembali fungsi museum melalui pembaruan tata pamer dan pemanfaatan teknologi.

Fadli mengungkapkan, museum itu mampu menarik sekitar 3.000 hingga 4.000 pengunjung per hari pada akhir pekan, meskipun lokasinya belum didukung akses transportasi umum yang memadai.

Capaian tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kualitas penyajian koleksi, pengalaman pengunjung, dan inovasi pengelolaan dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan minat masyarakat terhadap museum.

Namun, peningkatan jumlah kunjungan juga perlu diikuti dengan pengelolaan yang berkelanjutan, termasuk pemeliharaan koleksi, kesiapan sumber daya manusia, aksesibilitas, kualitas layanan, serta evaluasi pengalaman pengunjung. Dengan demikian, keberhasilan revitalisasi tidak berhenti pada tingginya angka kunjungan, tetapi turut tercermin dalam peningkatan literasi sejarah dan budaya masyarakat.

Lima Agenda Strategis Pemajuan Museum Nasional

Untuk memperkuat ekosistem permuseuman, Kementerian Kebudayaan menjalankan sejumlah langkah strategis yang mencakup revitalisasi fisik dan tata pamer, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan riset, dukungan pendanaan dari sektor swasta dan filantropi, penguatan sistem registrasi nasional, serta pengembangan program yang menyasar generasi muda.

Revitalisasi fisik dan tata pamer diarahkan untuk meningkatkan kualitas fasilitas sekaligus memperkuat penyampaian informasi kepada pengunjung. Sementara itu, penguatan sumber daya manusia dan riset diperlukan agar pengelolaan koleksi, dokumentasi, konservasi, dan penyusunan narasi sejarah dilakukan secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kementerian juga mendorong keterlibatan sektor swasta dan filantropi untuk memperluas dukungan pendanaan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat melengkapi peran pemerintah, terutama dalam pengembangan fasilitas, program publik, inovasi teknologi, dan kegiatan edukasi.

Pada saat yang sama, penguatan registrasi nasional menjadi bagian penting untuk memperbaiki pendataan dan tata kelola museum. Basis data yang lebih tertata diperlukan agar pemerintah dan pemangku kepentingan memiliki landasan yang lebih kuat dalam menyusun kebijakan, menentukan prioritas pengembangan, dan memantau kondisi permuseuman di berbagai daerah.

Adapun inovasi program untuk generasi muda diarahkan agar museum semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, antara lain melalui kegiatan edukasi, pameran tematik, dialog kebudayaan, dan pengalaman kunjungan yang lebih partisipatif.

Museum dan Peluang Ekonomi Budaya

Fadli memandang kebudayaan sebagai sumber daya yang bersifat sirkular dan tidak pernah habis. Nilai kebudayaan dapat terus dikembangkan melalui pendidikan, penelitian, kreativitas, dan pemanfaatan yang bertanggung jawab tanpa menghilangkan makna maupun merusak warisan yang dilindungi.

Dalam konteks tersebut, museum berpeluang menjadi bagian penting dari rantai ekonomi budaya. Aktivitas museum dapat membuka ruang kolaborasi bagi seniman, kurator, peneliti, pemandu, pelaku usaha kreatif, penyelenggara kegiatan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah di sekitarnya.

Pengembangan museum yang terintegrasi dengan destinasi wisata, agenda seni, kuliner lokal, kerajinan, dan kegiatan komunitas juga berpotensi memperpanjang lama kunjungan wisatawan serta memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Meski demikian, menjadikan museum sebagai motor pertumbuhan ekonomi membutuhkan tata kelola yang terukur. Pertumbuhan jumlah pengunjung perlu diimbangi dengan indikator lain, seperti kualitas edukasi, keberlanjutan pendanaan, kondisi koleksi, manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta akses yang setara bagi berbagai kelompok pengunjung.

Orientasi ekonomi juga harus berjalan seiring dengan fungsi utama museum sebagai lembaga pelindungan, penelitian, pendidikan, dan pemeliharaan memori kolektif bangsa. Komersialisasi yang tidak terkendali berisiko menggeser mandat publik museum dan mengurangi perhatian terhadap konservasi koleksi.

Karena itu, sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola museum swasta, filantropi, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan pengembangan museum berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.

Museum Sebagai Rumah Budaya dan Memori Kolektif

Dalam sambutannya, Fadli menegaskan museum memiliki peran penting dalam merawat warisan budaya, memperkuat identitas nasional, serta menyediakan ruang bagi edukasi, penelitian, dialog, dan kreativitas.

Peringatan Hari Museum Indonesia, menurutnya, menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menghidupkan museum milik pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, maupun perorangan.

“Mari kita jadikan museum bukan hanya sebagai rumah bagi koleksi, melainkan juga sebagai rumah bagi gagasan, ingatan kolektif, dialog, dan masa depan kebudayaan Indonesia. Kebudayaan adalah sokoguru bangsa, dan museum merupakan salah satu rumah utama tempat nilai-nilai kebangsaan dirawat, dipelajari, diwariskan, dan terus dikembangkan,” ujar Fadli.

Pesan tersebut menempatkan museum bukan hanya sebagai penjaga masa lalu, tetapi juga sebagai ruang yang memungkinkan masyarakat memahami sejarah, merumuskan identitas, dan membangun perspektif untuk menghadapi masa depan.

Dihadiri Tokoh Kebudayaan dan Akademisi

Peringatan Hari Museum Indonesia 2026 di Museum Rudana turut dihadiri Founder Museum Rudana, Nyoman Rudana Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Rumania untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Dan Adrian Bălănescu, Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Bali I Wayan Kun Adnyana, Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Cokorda Gde Bayu Putra, serta sejumlah pegiat museum dan komunitas budaya.

Fadli didampingi Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, serta Penasihat Menteri Bidang Pengembangan Strategi dan Optimalisasi Pengelolaan Museum Putu Supadma Rudana.

Agenda kegiatan juga mencakup penganugerahan Ksatria Award dari Museum Rudana kepada sejumlah tokoh yang dinilai memiliki kontribusi di bidang budaya dan permuseuman. Prof. Dr. RM. Soemitro Djojohadikoesoemo menerima Anugerah Ksatria Mahottama Nagara, Dr. Nyoman Nuarta menerima Anugerah Ksatria Mahottama Budaya, sedangkan Fadli Zon menerima Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kebudayaan turut membuka pameran tunggal perupa Wayan Kun Adnyana bertajuk “Gunung Suwung: Enigmatic Color Triumph through a Retrospective Journey”.

Rangkaian kegiatan tersebut mempertegas posisi museum sebagai ruang pertemuan antara warisan sejarah, ekspresi seni kontemporer, pendidikan, dan diplomasi kebudayaan.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi museum Indonesia akan ditentukan oleh konsistensi kebijakan, kualitas pengelolaan, dukungan pendanaan, dan kemampuan membangun hubungan yang relevan dengan masyarakat.

Jika seluruh aspek itu berjalan beriringan, museum berpeluang berkembang menjadi institusi publik yang tidak hanya menjaga warisan peradaban, tetapi juga memperkuat kualitas pendidikan, menggerakkan kreativitas, dan menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi bangsa.

Ervinna/DSR