Gereja Maria Bunda Karmel Kebon Jeruk memperingati Hari Perdamaian Sedunia bersama Komunitas Lintas Agama

Berita11,639 views

JAKARTA — Semangat memperkuat perdamaian dan kerukunan lintas agama terus digaungkan melalui perjumpaan antarumat beragama. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan peringatan Perdamaian Sedunia yang digelar di Gereja Maria Bunda Karmel (MBK), Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan tersebut diinisiasi Stella Aryati, Ketua Hubungan Antaragama dan Kemasyarakatan Gereja Maria Bunda Karmel. Kegiatan sejatinya direncanakan berlangsung pada 21 September 2026 bertepatan dengan Hari Perdamaian Sedunia. Namun, pelaksanaannya baru dapat digelar pada Rabu siang karena padatnya agenda bersama Pastor Paroki.

Dalam sambutannya, Stella Aryati menegaskan bahwa perdamaian tidak semata-mata dimaknai sebagai berhentinya perselisihan. Menurutnya, perdamaian juga harus diwujudkan melalui keadilan, empati, serta rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.

“Perdamaian bukan hanya soal menghentikan perselisihan, tetapi juga soal menghadirkan keadilan, empati, dan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari. Justru dari langkah-langkah kecil yang konsisten, perdamaian itu tumbuh,” ujar Stella.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh agama, pengurus RT dan RW setempat, serta komunitas lintas agama, termasuk Perkumpulan Penguat Keragaman Masyarakat Nusantara (PKMN) Jakarta.

Dorong Perdamaian dari Lingkungan Terdekat

Pengurus RT setempat, BP Jamhuri, S.H., menyampaikan apresiasi kepada Stella Aryati yang telah mengundang masyarakat dan komunitas lintas agama dalam kegiatan tersebut.

Menurut Jamhuri, kegiatan yang mengangkat tema perdamaian memiliki arti penting, terutama di tengah berbagai dinamika yang terjadi baik di tingkat global maupun nasional.

Ia mengatakan, doa untuk perdamaian seharusnya tidak hanya ditujukan bagi negara-negara di dunia yang tengah menghadapi konflik, tetapi juga bagi Indonesia agar masyarakat tetap menjaga kedamaian dan persatuan.

“Kita tidak hanya berdoa untuk perdamaian dunia yang saat ini masih menghadapi berbagai persoalan, tetapi juga mendoakan kedamaian di negeri yang kita cintai bersama,” ujar Jamhuri.

Ia menilai, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan lintas agama menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kepedulian dan memperkuat hubungan sosial di lingkungan sekitar.

PKMN Perkuat Toleransi Lintas Iman

Turut hadir Ketua Perkumpulan Penguat Keragaman Masyarakat Nusantara (PKMN), Yohanes Rudy. Ia menjelaskan bahwa PKMN merupakan komunitas lintas iman yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat dari enam agama yang diakui negara serta satu aliran kepercayaan.

Menurut Yohanes, keberadaan komunitas lintas iman tersebut diarahkan untuk membangun toleransi, memperluas ruang dialog, serta mendorong masyarakat untuk saling berbagi pengalaman, informasi, dan kebaikan.

“Kerukunan lintas agama ini dibangun untuk menciptakan toleransi, saling berbagi pengalaman dan informasi, serta berbagi kebaikan antarumat,” kata Yohanes.

Ia menambahkan, PKMN lebih mengedepankan nilai-nilai kebaikan dalam mencari makna kehidupan sesuai dengan iman dan keyakinan masing-masing.

Dalam konteks perdamaian, kata Yohanes, PKMN berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam berbagai kegiatan yang mendorong terciptanya kehidupan lintas iman yang harmonis.

“PKMN akan selalu konsisten berkontribusi dalam setiap kegiatan yang menciptakan perdamaian, menghadirkan empati dan rasa aman dalam kehidupan lintas iman sehari-hari, serta mempromosikan toleransi dan kerukunan lintas iman,” ujarnya.

Yohanes juga menyampaikan terima kasih kepada Stella Aryati yang telah menginisiasi sekaligus mengundang komunitas lintas agama dalam kegiatan peringatan Perdamaian Sedunia tersebut.

Dari Lingkungan terdekat melalui dialog

Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Para tokoh agama, pengurus lingkungan, dan anggota komunitas lintas agama berkesempatan membangun komunikasi serta mempererat hubungan antarelemen masyarakat.

Kegiatan kemudian ditutup dengan makan siang bersama tokoh agama, pengurus lingkungan, dan komunitas lintas iman sebagai bagian dari upaya memperkuat silaturahmi serta membangun ruang perjumpaan yang inklusif.

Semangat yang dibangun dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa perdamaian dapat dimulai dari lingkungan terdekat melalui dialog, kepedulian, toleransi, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. (pmkn/rfn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *