Keluhan Bau dan Saluran Air Berulang, Pemilik Penampungan Ayam di Cengkareng Timur Didorong Mediasi dengan Warga

Berita30 views

MediaPers.com : JAKARTA BARAT — Lurah Cengkareng Timur, Boy Raya Purba, menggelar rapat koordinasi kewilayahan untuk membahas tindak lanjut lima laporan melalui sistem Citizen Relationship Management (CRM), termasuk keluhan warga terkait bau tidak sedap dan persoalan saluran pembuangan air yang diduga berkaitan dengan aktivitas penampungan dan pemotongan ayam di wilayah RT 005/RW 014, Kelurahan Cengkareng Timur, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (27/10/2026).
Rapat yang berlangsung di Balai Warga RW 014 sekitar pukul 13.30 WIB tersebut menjadi forum koordinasi antara pemerintah kelurahan dan pengurus lingkungan untuk mengidentifikasi permasalahan, mengevaluasi laporan yang berulang, serta merumuskan langkah penyelesaian yang dapat ditindaklanjuti oleh pihak terkait.

Dalam pembahasan tersebut, persoalan lingkungan menjadi salah satu perhatian utama. Dari lima laporan CRM yang dibahas, dua di antaranya berkaitan dengan keberadaan kandang ayam dan aktivitas pemotongan hewan yang dinilai perlu mendapat perhatian serius, terutama menyangkut kebersihan, pengelolaan limbah, perizinan, dan dampaknya terhadap masyarakat sekitar.

*Lurah Dorong Mitigasi dan Penyelesaian melalui Mediasi
Dalam arahannya, Lurah Cengkareng Timur Boy Raya Purba menekankan pentingnya menganalisis setiap laporan CRM agar penanganannya tidak berhenti pada penyelesaian sementara, tetapi juga mampu mencegah permasalahan serupa kembali terjadi.

Menurut arahan yang disampaikan dalam rapat, persoalan lingkungan perlu diantisipasi melalui langkah mitigasi dan pencegahan sejak dini dengan melibatkan masyarakat, pengurus RT, RW, serta instansi terkait.

Apabila permasalahan telah menimbulkan keluhan warga, penyelesaiannya perlu dilakukan melalui koordinasi, pemeriksaan kondisi lapangan, dan komunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab.

Salah satu langkah yang didorong ialah mempertemukan pemilik penampungan ayam bernama Robert dengan warga terdampak untuk melakukan mediasi.

Penampungan yang disebut menampung sekitar 1.500 ekor ayam tersebut dikeluhkan karena menimbulkan bau tidak sedap. Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam rapat, pembersihan area kandang telah dilakukan secara berkala menggunakan disinfektan. Namun, persoalan operasional usaha dan kesesuaiannya dengan ketentuan yang berlaku masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.

Pihak terkait juga meminta bukti dan keterangan dari warga mengenai dampak yang dirasakan, sehingga penanganan dapat didasarkan pada kondisi faktual di lapangan.

*Ketua RW 014 Sebut Keluhan Warga Berulang

Sementara itu, Ketua RW 014 Cengkareng Timur, H. Lili Sutarli, sebelumnya menerima laporan warga mengenai persoalan bau tidak sedap dan saluran pembuangan air yang dikeluhkan di sekitar aktivitas pemotongan ayam.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Ketua RW mengaku mendatangi lokasi untuk melihat situasi sekaligus menenangkan warga agar kondisi tetap kondusif.
Menurut keterangannya, keluhan warga telah disampaikan berulang kali selama bertahun-tahun, tetapi penyelesaian yang diharapkan belum sepenuhnya terwujud.

Persoalan yang menjadi perhatian meliputi bau tidak sedap, pengelolaan limbah, serta saluran pembuangan air atau gorong-gorong yang dikhawatirkan menimbulkan gangguan bagi lingkungan permukiman.
“Saya datang terlebih dahulu untuk menenangkan warga agar situasi tetap kondusif. Persoalan ini perlu diselesaikan bersama supaya tidak terus menimbulkan keresahan,” ujar Ketua RW 014 dalam keterangannya.

Ia menegaskan, kepentingan warga dan keberlangsungan usaha perlu dipertimbangkan secara seimbang. Namun, aktivitas usaha tetap harus memperhatikan kebersihan, kesehatan, kenyamanan masyarakat, dan ketentuan yang berlaku.

Ketua RW juga menyampaikan bahwa upaya menemui pihak yang bertanggung jawab atas operasional usaha untuk membahas persoalan tersebut belum membuahkan hasil. Karena itu, koordinasi dengan instansi terkait, khususnya yang membidangi lingkungan hidup dan perizinan, dinilai penting untuk memperoleh kejelasan dan menentukan langkah penanganan selanjutnya.

* M. Mari Soroti Status Lahan dan Perizinan Usaha
Dalam kesempatan yang sama, M. Mari turut menyoroti persoalan status lahan dan perizinan aktivitas penampungan maupun pemotongan ayam tersebut.
Menurut M. Mari, terdapat pertanyaan yang perlu diklarifikasi mengenai status kepemilikan atau penguasaan lahan yang disebut berkaitan dengan aset BUMN atau Perum Perumnas, termasuk apakah kegiatan usaha tersebut telah memperoleh izin atau persetujuan dari pihak yang berwenang.

Ia menegaskan bahwa kejelasan mengenai status lahan, perizinan usaha, dan pengelolaan limbah perlu diperiksa oleh instansi terkait agar tidak menimbulkan persoalan berkepanjangan.

M. Mari juga mendorong pemerintah dan instansi berwenang turun langsung untuk memeriksa kondisi di lapangan. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa lokasi atau kegiatan usaha tidak sesuai dengan ketentuan, langkah penataan, termasuk kemungkinan pemindahan lokasi, dapat dipertimbangkan sesuai aturan yang berlaku.

Meski demikian, status lahan, kelengkapan perizinan, serta dugaan belum adanya izin dari Perum Perumnas masih memerlukan konfirmasi kepada pihak pengelola, Perum Perumnas, dan instansi berwenang.

* Warga Minta Bau Dikendalikan dan Gorong-Gorong Diperbaiki
Di sisi lain, warga yang terdampak menyampaikan bahwa keberadaan usaha bukanlah persoalan utama yang mereka permasalahkan. Warga lebih mengharapkan agar dampak lingkungan dari aktivitas tersebut dapat diminimalkan, terutama bau tidak sedap dan persoalan saluran air.
Warga meminta pihak pengelola memperhatikan sistem pembuangan air dengan membuat atau membenahi saluran gorong-gorong agar aliran air berjalan lancar, khususnya ketika musim hujan.
Menurut warga, saluran air yang tidak tertata dengan baik dikhawatirkan menimbulkan genangan, meningkatkan risiko banjir, dan memperburuk bau tidak sedap di lingkungan sekitar.
“Saya tidak mempermasalahkan jenis usahanya. Yang penting, bagaimana caranya agar bau tidak sedap bisa diminimalkan dan pihak pengelola membuat saluran air atau gorong-gorong supaya aliran air lancar, terutama saat musim hujan, sehingga tidak menimbulkan banjir maupun bau tidak sedap,” ungkap warga terdampak.
Warga juga mengaku kebingungan mengenai jalur pengaduan yang tepat karena persoalan tersebut dinilai belum memperoleh penyelesaian yang memuaskan.
Mereka berharap pemerintah kelurahan, pengurus RT dan RW, serta instansi terkait dapat membantu menjembatani komunikasi dengan pihak pengelola agar kebutuhan warga mendapatkan kepastian tindak lanjut.
Lima Laporan CRM Diharapkan Ditindaklanjuti
Melalui rapat koordinasi tersebut, pemerintah kelurahan dan pengurus lingkungan diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam menangani pengaduan masyarakat, khususnya laporan yang terus berulang.

Penanganan tidak hanya diharapkan berfokus pada penyelesaian keluhan yang muncul, tetapi juga mencakup pemeriksaan kondisi saluran pembuangan, pengelolaan limbah, pengendalian bau, serta kejelasan status dan perizinan kegiatan usaha.
Mediasi antara pemilik usaha dan warga menjadi salah satu langkah yang perlu ditindaklanjuti untuk mempertemukan kepentingan kedua belah pihak. Selain itu, pemeriksaan oleh instansi berwenang diperlukan untuk memastikan kondisi faktual dan menentukan tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.
Hingga rapat koordinasi berlangsung pada Selasa (27/10/2026), persoalan bau tidak sedap, pengelolaan limbah, dan saluran pembuangan air tersebut masih memerlukan tindak lanjut. Keterangan dari pihak pengelola dan instansi berwenang juga diperlukan untuk memberikan gambaran yang utuh mengenai kondisi usaha dan langkah penyelesaiannya.

Warga berharap koordinasi tersebut tidak berhenti pada pembahasan, tetapi menghasilkan langkah konkret agar lingkungan permukiman tetap bersih, sehat, nyaman, serta terbebas dari gangguan bau dan persoalan saluran air yang berpotensi menimbulkan masalah saat musim hujan.

 

Keluhan Bau dan Saluran Air Berulang, Pemilik Penampungan Ayam di Cengkareng Timur Didorong Mediasi dengan Warga

Rham/Red
Tim Publikasi 014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *