PKMN Gelar Nonton Bersama Film Ageman, Perkuat Pesan Kerukunan dan Persatuan dalam Kemanusiaan

Berita12,972 views

JAKARTA BARAT – Penguat Keragaman Masyarakat Nusantara (PKMN) menggelar kegiatan nonton bersama film Ageman yang mengangkat pesan keberagaman dan persatuan dalam kemanusiaan, Minggu (1/11/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium Yayasan SLB B Pangudi Luhur, Kembangan, Jakarta Barat.

Mengusung semangat “Berbeda dalam Keyakinan, Bersatu dalam Kemanusiaan, Bersama Membangun Kerukunan”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus upaya memperkuat nilai toleransi, persaudaraan, dan kerukunan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang agama, keyakinan, serta budaya yang beragam.

Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional, unsur pemerintah, tokoh lintas agama, serta tokoh masyarakat. Hadir di antaranya Eks Direktur Pencegahan dan Deradikalisasi BNPT RI, Irjen Pol (Purn) R. Ahmad Nurwakhid, S.H., S.E., M.M.; produser film Ageman, Ken Setiawan; Ketua FKUB Jakarta Barat, H. Saumun Hasan; serta Asisten Pemerintahan Sekko Administrasi Jakarta Barat, Holi Susanto.

Turut hadir Kepala Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jakarta Barat, Tumpal Matondang; Ketua PKMN, Yohanes Rudi; Ketua Harian DPP Gerakan Pemuda Marhaenis, Abdul Rajab Saputra; Wakil Sekretaris Pokja PWI Wali Kota Jakarta Barat sekaligus Tokoh Agama Buddha Jakarta Barat PMd. Rafian Tama Periadi, S.Ag.

Hadir pula Ketua Kampung Kerukunan Rawa Buaya, H. Effendi; Ketua Kampung Kerukunan Kembangan Selatan, Hardi Solaiman; bersama sejumlah tokoh agama, selain itu hadir juga tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan pimpinan ormas Jakarta Barat.

Film Ageman Angkat Kisah Transformasi Mantan Anggota NII dan Pesan Kerukunan

Dalam sambutannya, Ken menjelaskan bahwa film tersebut awalnya dibuat berdasarkan inisiatif sejumlah rekannya di Lampung yang ingin mendokumentasikan perjalanan hidupnya. Menurutnya, pengalaman keluar dari lingkungan radikal perlu dibagikan kepada masyarakat agar dapat menjadi pembelajaran dan inspirasi.

Ken mengungkapkan, dirinya pernah bergabung dengan kelompok NII sebelum akhirnya mendapatkan pendampingan dari Irjen Pol (Purn) R. Ahmad Nurwakhid, yang saat itu memiliki peran dalam upaya pencegahan radikalisme.

Setelah melalui proses tersebut, Ken justru terlibat dalam kegiatan pencegahan terorisme. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Lampung.

“Kalau kesaksian lewat seminar mungkin terbatas. Teman-teman di Lampung punya ide, saya dijadikan film supaya dapat menginspirasi masyarakat. Walaupun pengalaman buruk, tetapi pengalamannya sangat bermanfaat,” ujar Ken.

Ageman: Simbol Identitas yang Tidak Seharusnya Memecah Persaudaraan

Ken menjelaskan, judul Ageman diambil dari istilah yang dikenal dalam bahasa Jawa, Sunda, dan Bali, yang memiliki makna pakaian, pedoman, atau identitas.

Menurutnya, pemilihan judul tersebut mengandung filosofi bahwa identitas yang dimiliki seseorang, termasuk agama, keyakinan, maupun organisasi, seharusnya tidak menjadi alasan untuk merendahkan atau memusuhi orang lain.

Ia mengibaratkan manusia seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ketika belum mengenakan pakaian, semua manusia memiliki kesamaan sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Namun, ketika telah memiliki identitas, tidak jarang muncul perasaan bahwa identitas sendiri lebih baik dibandingkan milik orang lain.

“Gara-gara baju, kita bertikai. Gara-gara identitas, gara-gara nama organisasi, dan lain sebagainya. Jadi, kita berharap dengan Ageman ini, berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kemanusiaan, dan bersama membangun kerukunan,” tuturnya.

Film tersebut juga melibatkan berbagai unsur masyarakat dan tokoh lintas agama di Lampung. Ken menyebut terdapat enam unsur tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan yang terlibat, antara lain perwakilan Islam, Kristen, Asosiasi Pendeta Indonesia, Keuskupan Lampung, WALUBI Lampung, serta Pemuda Batak Bersatu.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan Lampung sebagai miniatur Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, budaya, dan tradisi.

Selain menyampaikan pesan toleransi, film ini turut mengangkat kearifan lokal Lampung, termasuk falsafah kehidupan masyarakat setempat dan kuliner khas seruit.

Libatkan Masyarakat dan Pemerintah Lampung

Ken mengungkapkan bahwa produksi film Ageman pada awalnya ditujukan sebagai media edukasi bagi masyarakat Lampung. Rencananya, film tersebut akan disosialisasikan ke berbagai lembaga pendidikan, mulai dari SMP, SMA, SMK, pesantren, madrasah hingga perguruan tinggi.

Dalam proses produksinya, film ini melibatkan sekitar 25 kru dan 15 talenta. Bahkan, sejumlah pejabat daerah turut ambil bagian, termasuk Gubernur Lampung, Asisten Kesejahteraan Rakyat, serta beberapa kepala organisasi perangkat daerah (OPD), di antaranya Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung.

Dua pemeran utama, Aluna dan Jesya, merupakan siswi MTs Muhammadiyah Kota Bandar Lampung. Sementara itu, salah satu pemeran lainnya, Rudi Irawan, merupakan dosen di UIN Lampung.

Ken juga menyampaikan bahwa dalam perkembangannya, film tersebut mendapat perhatian dari jajaran BNPT di Lampung. Ia menyebut terdapat harapan agar film Ageman dapat diperluas pemanfaatannya sebagai media edukasi berskala nasional.

Menurut Ken, terdapat rencana untuk memperkenalkan film tersebut kepada Presiden Republik Indonesia. Namun, ia menegaskan bahwa penyebarluasan film perlu dilakukan secara utuh agar pesan yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Angkat Isu Bullying sebagai Salah Satu Pemicu Radikalisme

Lebih jauh, Ken menjelaskan bahwa Ageman tidak hanya berbicara mengenai toleransi antarumat beragama, tetapi juga mengangkat persoalan sosial yang dapat menjadi pintu masuk berkembangnya sikap intoleran dan radikalisme, salah satunya perundungan atau bullying.

Dalam film tersebut terdapat adegan perundungan di lingkungan sekolah yang menggambarkan bagaimana seorang anak dapat mengalami tekanan sosial dan psikologis akibat perlakuan lingkungan sekitarnya.

Ken mengingatkan bahwa persoalan bullying, kondisi keluarga yang tidak harmonis, serta pengaruh lingkungan digital perlu mendapatkan perhatian serius dari orang tua, tenaga pendidik, dan masyarakat.

Ia juga menyoroti fenomena paparan konten ekstrem di media sosial dan komunitas digital. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat anak-anak dan remaja semakin rentan terpapar berbagai konten yang berpotensi mendorong perilaku kekerasan.

Karena itu, film Ageman diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus pengingat bagi masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan pergaulan dan perkembangan anak.

Mengajak Masyarakat Kembali Duduk Bersama

Dalam bagian lain sambutannya, Ken menceritakan salah satu pengalaman yang paling membekas ketika dirinya mulai membuka diri terhadap dialog lintas agama setelah meninggalkan kelompok NII.

Ia mengaku pernah berada dalam kondisi tidak mau bertemu dengan tokoh agama lain karena menganggap keyakinan pihak lain keliru. Namun, pandangannya mulai berubah setelah berkesempatan berdialog langsung dengan tokoh agama Hindu.

Dari percakapan tersebut, ia mendapatkan pemahaman bahwa perbedaan pandangan keagamaan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun hubungan kemanusiaan.

“ Ternyata kita hanya kurang duduk bersama,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu inti cerita Ageman. Film ini menggambarkan bagaimana perbedaan keyakinan dapat memutus hubungan persahabatan, bahkan memengaruhi hubungan antarkeluarga. Salah satu tokoh dalam film, Ratri, digambarkan menjadi korban pola pikir intoleran orang tuanya.

Namun, melalui perjalanan cerita, para tokoh akhirnya menyadari bahwa perbedaan bukan alasan untuk memutus persaudaraan. Mereka kemudian kembali bersatu dengan memahami dan menghargai keyakinan masing-masing.

Ken berharap film berdurasi sekitar 80 menit tersebut dapat menjadi media pembelajaran bagi masyarakat luas.

Ia juga menjelaskan bahwa film tersebut belum dipublikasikan secara terbuka melalui media sosial karena masih dalam proses persiapan untuk pemutaran yang lebih luas. Hal itu dilakukan agar potongan adegan yang memiliki konteks sensitif tidak disalahartikan apabila tersebar tanpa keseluruhan cerita.

Menutup sambutannya, Ken berharap pemutaran film Ageman di Jakarta Barat menjadi langkah awal untuk memperluas ruang edukasi kerukunan di berbagai daerah di Indonesia.

Baginya, masyarakat tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk dapat hidup berdampingan. Hal terpenting adalah membangun komunikasi, saling menghormati, dan menjaga nilai kemanusiaan.

Kepala BNPT Apresiasi Film Ageman sebagai Media Edukasi Perdamaian

Dukungan terhadap film Ageman juga disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, S.I.K., M.H., melalui sambutan video yang ditayangkan dalam kegiatan tersebut.

Dalam pesannya, Eddy menyampaikan apresiasi dan dukungan atas hadirnya film Ageman yang diadaptasi dari kisah nyata perjalanan hidup Ken Setiawan, dari seseorang yang pernah terpapar paham radikal hingga bertransformasi menjadi pribadi yang moderat.

Menurutnya, film tersebut diharapkan dapat menjadi media edukasi sekaligus sumber inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan perdamaian.

“Saya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia menyampaikan apresiasi dan dukungan atas hadirnya film Ageman yang diadaptasi dari kisah nyata perjalanan hidup Ken Setiawan dari radikalis ke moderat,” ujar Eddy dalam sambutan videonya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mendukung karya-karya perdamaian Indonesia yang mengangkat nilai-nilai kebaikan serta memperkuat semangat persatuan.

“Mari kita dukung karya-karya perdamaian Indonesia yang mengangkat nilai-nilai kebaikan dan memperkuat semangat persatuan. Selamat atas hadirnya film Ageman, semoga sukses dan dapat memberikan manfaat serta pesan positif bagi seluruh masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Apresiasi dari Kepala BNPT tersebut memperkuat pesan bahwa karya perfilman dapat dimanfaatkan sebagai salah satu pendekatan edukasi masyarakat dalam membangun kesadaran tentang bahaya radikalisme sekaligus menanamkan nilai toleransi dan kehidupan damai.

Holi Susanto Dorong Film Ageman Jadi Media Edukasi Toleransi di Jakarta Barat

Asisten Pemerintahan Sekretariat Kota Administrasi Jakarta Barat, Holi Susanto, mengapresiasi pesan keberagaman dan toleransi yang disampaikan melalui film Ageman setelah mengikuti pemutaran film dalam kegiatan yang diselenggarakan Penguat Keragaman Masyarakat Nusantara (PKMN), Minggu (1/11/2026), di Auditorium Yayasan SLB B Pangudi Luhur, Kembangan, Jakarta Barat.

Menurut Holi, film tersebut tidak hanya menyampaikan pesan tentang toleransi antarumat beragama, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya dan kearifan lokal Lampung melalui berbagai simbol tradisi yang ditampilkan sepanjang cerita.

Ia menyoroti sejumlah unsur budaya Lampung yang muncul dalam film, mulai dari kuliner khas seruit, pakaian adat, hingga siger sebagai simbol identitas budaya masyarakat Lampung.

Holi menilai pengenalan budaya daerah melalui film dapat menjadi jembatan untuk membangun kedekatan antarmasyarakat sekaligus memperkuat rasa saling menghargai di tengah keberagaman Indonesia.

Selain aspek budaya, ia juga memberikan perhatian terhadap pesan utama film yang menggambarkan dampak pola pikir intoleran dalam kehidupan keluarga dan lingkungan pergaulan anak.

Menurutnya, perbedaan agama tidak seharusnya menjadi alasan bagi orang tua untuk membatasi hubungan persahabatan anak dengan teman yang memiliki keyakinan berbeda.

Dalam kesempatan tersebut, Holi bahkan mengusulkan agar film Ageman kembali diputar dengan durasi penuh, yakni sekitar 80 menit, sehingga masyarakat dapat memahami keseluruhan alur cerita dan pesan yang ingin disampaikan.

Ia juga menyampaikan gagasan untuk mengadakan kegiatan nonton bersama yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat serta Duta Toleransi.

“Pak Ken, nanti diadakan untuk ASN kita buat acara nonton bersama. Nanti yang menonton ASN kita dan Duta Toleransi,” ujar Holi.

Menurutnya, pemutaran film secara lebih luas dapat menjadi sarana edukasi bagi aparatur pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat pemahaman mengenai toleransi, persatuan, serta kehidupan harmonis di tengah perbedaan.

Holi berharap para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh peserta yang hadir dapat meneruskan pesan positif film tersebut kepada lingkungan masing-masing.

Ia menegaskan bahwa keberagaman harus menjadi perekat persatuan, bukan sumber perpecahan.

“Semoga dengan kehadiran Bapak dan Ibu sekalian sebagai perekat toleransi dan keberagaman, pesan ini dapat ditularkan kepada tetangga dan masyarakat. Kita boleh berbeda, tetapi kerukunan harus tetap dijaga,” ungkapnya.

Ketua FKUB Jakarta Barat: Toleransi Harus Berujung pada Kolaborasi dan Kerja Sama

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Barat, H. Saumun Hasan, menilai film Ageman memberikan sejumlah pelajaran penting mengenai pendidikan toleransi, pemahaman keagamaan, dan pentingnya membangun kerja sama di tengah keberagaman masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya setelah menyaksikan pemutaran film Ageman dalam kegiatan nonton bersama yang diselenggarakan Penguat Keragaman Masyarakat Nusantara (PKMN), Minggu (1/11/2026), di Auditorium Yayasan SLB B Pangudi Luhur, Kembangan, Jakarta Barat.

Saumun mengemukakan tiga poin utama yang menjadi refleksinya setelah menyaksikan film tersebut.

Pertama, mengenai pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter dan cara pandang anak terhadap keberagaman. Menurutnya, setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci, ibarat kertas putih yang belum memiliki goresan. Lingkungan keluarga dan pola pendidikan orang tua memiliki pengaruh besar dalam membentuk sikap serta perilaku anak.

Ia mencontohkan salah satu adegan dalam film yang menggambarkan seorang anak tidak diperbolehkan bermain dengan teman berbeda agama karena larangan orang tuanya.

Menurut Saumun, situasi tersebut menunjukkan bahwa sikap intoleransi dapat mulai tumbuh dari lingkungan keluarga apabila anak tidak diberikan pemahaman yang benar tentang kehidupan dalam keberagaman.

Kedua, pentingnya memahami ajaran agama secara menyeluruh dan tidak hanya berdasarkan pemahaman yang dangkal atau sepotong-sepotong.

Ia menyoroti adegan ketika seorang tokoh memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Menurutnya, keyakinan merupakan sesuatu yang bersifat pribadi dan tidak dapat dipaksakan kepada orang lain.

Dalam perspektif Islam, Saumun mengingatkan prinsip lā ikrāha fid-dīn yang berarti tidak ada paksaan dalam agama. Ia juga mengutip Surah Al-Kafirun ayat 6, Lakum dīnukum wa liya dīn, yang bermakna bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Menurutnya, pemahaman agama harus dilakukan secara utuh agar seseorang tidak mudah terjebak dalam penafsiran sempit yang justru dapat melahirkan sikap eksklusif dan intoleran.

“Keyakinan itu adalah sesuatu yang mutlak, tetapi kita tidak boleh memaksakan keyakinan kita kepada orang lain. Di sinilah pentingnya memahami agama secara menyeluruh, sehingga pada akhirnya akan muncul toleransi dalam diri kita,” ungkapnya.

Ia menambahkan, seseorang yang memahami ajaran agamanya secara mendalam semestinya mampu menghormati orang lain yang memiliki keyakinan berbeda tanpa harus meninggalkan prinsip kepercayaannya sendiri.

Ketiga, toleransi harus diwujudkan melalui interaksi sosial dan kerja sama antarmasyarakat. Menurut Saumun, pergaulan yang terbuka sejak usia dini dapat membantu anak memahami bahwa perbedaan merupakan bagian alami dari kehidupan.

Ia menjelaskan bahwa manusia terlahir dari keluarga, lingkungan, dan latar belakang yang berbeda. Karena itu, kehidupan bersama menuntut setiap orang untuk saling menerima, menghargai, dan menghormati perbedaan tersebut.

Namun, Saumun menegaskan bahwa kerukunan tidak cukup hanya berhenti pada sikap mengakui dan menghargai perbedaan. Lebih dari itu, toleransi perlu ditingkatkan menjadi kolaborasi dan kerja sama konkret.

Ia mencontohkan tradisi makan bersama dengan kuliner khas Lampung, seruit, yang ditampilkan dalam film Ageman. Kebersamaan melalui aktivitas sederhana seperti makan bersama dapat menjadi simbol bagaimana masyarakat dari berbagai latar belakang dapat berinteraksi tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan.

“Bukan hanya kita mengakui perbedaan, menghargai perbedaan, dan menghargai orang lain, tetapi harus diwujudkan di dalam sebuah kolaborasi dan kerja sama,” tegas Saumun.

Menurutnya, pesan tersebut relevan dengan upaya membangun kerukunan umat beragama di tengah kehidupan masyarakat modern. Toleransi harus tercermin dalam tindakan nyata, seperti gotong royong, kegiatan sosial, kepedulian terhadap sesama, dan berbagai bentuk kerja sama lintas agama.

Saumun berharap pesan yang disampaikan melalui film Ageman dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya orang tua, tokoh agama, dan generasi muda, untuk terus merawat kerukunan serta menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam membangun kehidupan bermasyarakat.

Baginya, masyarakat yang rukun bukanlah masyarakat yang memiliki keyakinan seragam, melainkan masyarakat yang mampu hidup berdampingan, saling menghormati, dan bekerja sama demi kepentingan kemanusiaan. (rafian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *