Kabupaten TANGERANG – Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi keagamaan dalam melahirkan cendekiawan yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mengamalkan ilmunya dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Nasaruddin Umar dalam acara Launching Institut Agama Buddha Negeri (IABN) Sriwijaya Tangerang yang dirangkaikan dengan peresmian Gedung Pusat Layanan Informasi Pendidikan Yobana Sukha Vidyalaya, Rabu (21/10/2026).
Dalam sambutannya, Menteri Agama mengapresiasi perkembangan IABN Sriwijaya Tangerang, termasuk pembangunan gedung baru yang dinilainya mencerminkan semangat dan komitmen dalam mengembangkan pendidikan tinggi keagamaan Buddha di Indonesia.
Ia menegaskan, transformasi kelembagaan IABN Sriwijaya Tangerang merupakan wujud komitmen pemerintah melalui Kementerian Agama untuk memajukan pendidikan keagamaan yang inklusif, adil, dan bermutu bagi seluruh umat beragama.
Menurut Nasaruddin, pendidikan tinggi keagamaan harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki integritas, karakter, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
“Yang kita akan lahirkan di kampus ini bukan saja seorang ilmuwan. Tapi yang lebih dari itu masih ada yang disebut dengan intelektual. Intelektual pun juga belum cukup. Yang kita inginkan adalah ilmuwan yang berdampak. Ilmuwan yang berdampak itu itulah yang disebut dengan cendekiawan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa cendekiawan merupakan sosok yang memiliki pengetahuan mendalam, mengamalkan ilmu yang dikuasai, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya. Karena itu, ia berharap IABN Sriwijaya Tangerang dapat melahirkan sarjana yang memiliki keunggulan intelektual sekaligus tanggung jawab sosial.
Nama Sriwijaya Bawa Warisan Peradaban Buddha Nusantara
Menteri Agama juga menyoroti penggunaan nama Sriwijaya yang menurutnya memiliki nilai sejarah dan tanggung jawab peradaban yang besar. Dalam sejarah Nusantara, Kedatuan Sriwijaya dikenal sebagai pusat perdagangan sekaligus pusat pembelajaran agama Buddha yang berpengaruh di Asia pada masanya.
Ia mendorong berbagai pihak untuk terus menggali dan mengangkat kembali peninggalan sejarah Buddha di Indonesia, termasuk kawasan percandian Muaro Jambi, sebagai bagian dari kebanggaan dan kekayaan peradaban bangsa.

Menurutnya, nama Sriwijaya harus menjadi inspirasi bagi IABN Sriwijaya Tangerang untuk berkembang bukan sekadar sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai pusat kearifan lokal, moderasi beragama, dan penguatan kebangsaan.
Ia berharap kampus tersebut mampu mencetak generasi Indonesia yang berkarakter, berakhlak mulia, serta memiliki wawasan global.
Yobana Sukha Vidyalaya sebagai Rumah Pengetahuan
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin menjelaskan bahwa Gedung Pusat Layanan Informasi Pendidikan yang diberi nama Yobana Sukha Vidyalaya memiliki makna spiritual dan intelektual yang mendalam.
Ia memaknai nama tersebut sebagai gambaran rumah pengetahuan yang membawa keindahan dan kebahagiaan sejati. Menurutnya, gedung tersebut tidak boleh hanya menjadi bangunan fisik yang megah, tetapi harus berfungsi sebagai pusat aktivitas akademik, literasi digital, integrasi data, dan layanan informasi pendidikan yang terbuka bagi masyarakat.
“Gedung ini harus hidup sebagai jantung intelektual IABN Sriwijaya Tangerang,” tegasnya.
Menteri Agama juga mendorong agar fasilitas pendidikan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan akademik dan kemanusiaan yang lebih luas, termasuk memberikan ruang bagi generasi muda dan masyarakat sekitar untuk mengakses pengetahuan.
Ia mencontohkan pemanfaatan rumah ibadah sebagai ruang publik yang terbuka bagi masyarakat tanpa membedakan agama, khususnya dalam pelayanan sosial dan kemanusiaan. Menurutnya, semangat keterbukaan tersebut perlu dikembangkan pula di lingkungan perguruan tinggi keagamaan.
Dorong Kampus Inklusif dan Perpustakaan Digital Terbuka
Nasaruddin menyampaikan sejumlah pesan kepada pengelola IABN Sriwijaya Tangerang. Pertama, ia meminta kampus tersebut berada di garis depan dalam merawat kebinekaan melalui penerapan nilai-nilai universal agama Buddha, seperti Metta (cinta kasih), Karuna (kasih sayang), Mudita (turut berbahagia), dan Upekkha (keseimbangan batin).
Ia berharap nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan akademik sehingga kampus menjadi ruang pembelajaran toleransi, kedamaian, kesetaraan, dan persaudaraan.

Kedua, ia mendorong transformasi tata kelola pendidikan berbasis digital. Layanan informasi pendidikan, menurutnya, perlu dikembangkan agar lebih akurat, transparan, cepat, dan terintegrasi serta mudah diakses mahasiswa, dosen, peneliti, dan masyarakat.
Ia secara khusus mendorong keterbukaan akses perpustakaan digital agar sumber pengetahuan dapat dimanfaatkan lebih luas. Ia juga mengajak perguruan tinggi keagamaan dan perguruan tinggi umum untuk memperkuat kerja sama dalam berbagi akses sumber referensi dan hasil penelitian.
Menurutnya, keterbukaan pengetahuan merupakan bagian dari pengabdian akademik yang dapat memperluas kesempatan belajar bagi generasi muda Indonesia.
Ketiga, Menteri Agama mendorong peningkatan kapasitas dosen dan peneliti melalui riset kontekstual dalam bidang studi agama Buddha, filsafat, pendidikan, dan ilmu sosial humaniora. Ia juga mengajak IABN Sriwijaya Tangerang membangun jejaring dengan perguruan tinggi di dalam dan luar negeri, termasuk di Thailand, India, Taiwan, dan Sri Lanka.
Ia berharap IABN Sriwijaya Tangerang dapat berkembang menjadi pusat unggulan dalam studi keagamaan dan kebudayaan Buddha Nusantara yang dikenal di tingkat internasional.
Integrasikan Ilmu Pengetahuan, Moral, dan Kepedulian Lingkungan
Menteri Agama juga menekankan pentingnya pendidikan yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan nilai moral dan spiritual, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan perlu disertai tanggung jawab etis agar teknologi benar-benar memberikan manfaat bagi manusia, bukan justru menimbulkan ancaman bagi kehidupan.
Ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi keagamaan memiliki peran strategis dalam membangun landasan moral bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, ia mendorong IABN Sriwijaya Tangerang memperkuat kajian etika, pendidikan karakter, dan tanggung jawab sosial.
Selain itu, Nasaruddin mengajak kampus menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian nyata dari kehidupan akademik melalui pengembangan konsep green campus. Ia menilai ajaran Buddha mengenai keterhubungan antara manusia dan alam relevan untuk memperkuat kesadaran ekologis di tengah tantangan perubahan iklim.
Ia juga mengajak para pemimpin agama untuk memperkuat dialog dan kerja sama lintas iman dalam membangun perdamaian serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
“Kalau kita menganggap semuanya ini adalah aku, we are the same, damailah dunia ini, damailah hati ini,” ungkapnya, menekankan pentingnya kesadaran akan keterhubungan antarmakhluk.
Menutup sambutannya, Menteri Agama menegaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Agama akan terus mendukung pengembangan sarana, prasarana, dan mutu akademik perguruan tinggi keagamaan di Indonesia, termasuk IABN Sriwijaya Tangerang.
Ia berharap peluncuran institut dan peresmian Gedung Yobana Sukha Vidyalaya menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan tinggi keagamaan yang terbuka, berintegritas, berorientasi pada kemanusiaan, serta mampu melahirkan cendekiawan yang membawa manfaat nyata bagi bangsa dan negara.(rafian)
