50 Tahun Nalanda, Gedung Balaputradewa Diresmikan, Tonggak Baru Penguatan Pendidikan Buddhis di Indonesia

Berita, Education3,668 views

JAKARTA – Nalanda telah mengadakan peresmian Gedung Balaputradewa yang berlokasi di Kampus Nalanda, Cakung, Jakarta Timur, pada Minggu, 2 Agustus 2026. Mengusung tema “Nalanda Excellence in the Golden Era”, peresmian tersebut menjadi langkah Institut Nalanda dalam memperkuat sarana pembelajaran, menunjang kegiatan akademik, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih representatif bagi pengembangan sumber daya manusia berkarakter.

Dāna Makan Siang Bersama Bhikkhu Saṅgha Awali Rangkaian Pembukaan

Sebelum acara pembukaan dimulai, insan Nalanda melaksanakan dāna makan siang kepada Bhikkhu Saṅgha. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 12.30 WIB tersebut dihadiri Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera bersama para anggota Saṅgha, yakni Bhikkhu Candakaro Mahāthera, Bhikkhu Mahā Dhammajāto Mahāthera, Bhikkhu Ratanadhiro Thera, Bhikkhu Dhammavuddho Thera, Bhikkhu Suvimalo, Bhikkhu Sudhiro, Bhikkhu Jayaviro, dan Bhikkhu Dhanissaro. Turut hadir Drs. Supriyadi, M.Pd., Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia; Gandi Sulistiyanto, Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan periode 2021-2023, sekaligus pendiri GAN Kapital Group; Prof. Philip K. Widjaja, Ketua Umum Permabudhi; dr. R. Surya Widya, SpKJ., pendiri Nalanda; Romo Tan Tjoe Liang, Ketua Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda; Dr. Sutrisno, S.IP., M.Si., Rektor Institut Nalanda, perwakilan Kedutaan Besar India untuk Indonesia, Irjen Pol (Purn) Drs. Budi Setiawan, M.Sc, pimpinan Nalanda, organisasi Buddhis, para pejabat, serta tamu undangan.

Rangkaian kegiatan dibuka dengan tari penyambutan oleh mahasiswa, dilanjutkan dengan pembacaan namakāra pāṭha, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Nalanda, serta pembacaan syair Dhammapada. Acara kemudian diisi dengan sejumlah sambutan, penyerahan plakat kepada donatur, penampilan Nalanda Music, kilas balik perjalanan Nalanda, pemutaran video dokumenter pembangunan gedung, anusāsanā, dan prosesi peresmian.

Romo Tan Tjoe Liang: Gedung Balaputradewa Diharapkan Menjadi Pusat Pembelajaran Dhamma

Dalam sambutannya, sebagai Ketua Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, Romo Tan Tjoe Liang menyampaikan bahwa peresmian Gedung Balaputradewa memiliki makna khusus karena berlangsung dalam momentum 50 tahun perjalanan Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda. Keberadaan gedung tersebut menjadi bagian dari dedikasi panjang Nalanda dalam mengembangkan pendidikan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami menaruh harapan besar agar Gedung Balaputradewa ini tidak sekadar menjadi bangunan fisik, tetapi benar-benar hidup dan berfungsi sebagai pusat pembelajaran serta penanaman karakter Dhamma bagi generasi penerus,” ujar Romo Tan Tjoe Liang.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para pendiri Nalanda, khususnya dr. R. Surya Widya, SpKJ., yang terus mendampingi perkembangan lembaga. Menurutnya, nama Balaputradewa yang diberikan oleh Y.M. Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera membawa semangat kearifan dan kebijaksanaan Raja Sriwijaya yang berperan dalam perkembangan Dhamma dan ilmu pengetahuan.

Pembangunan gedung tersebut terwujud melalui dukungan berbagai pihak. Empat sponsor utamanya adalah PT Astra International Tbk, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Djarum Foundation, dan GAN Kapital Group. Dukungan furnitur dan perlengkapan gedung turut diberikan oleh PT Triputra Agro Persada Tbk, Barito Pacific Group, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk, dan Summarecon.

“Kedermawanan yang ditunjukkan para donatur telah menjadi fondasi penting bagi berdirinya bangunan bersejarah ini,” kata Romo Tan.

Rektor Institut Nalanda: Gedung Balaputradewa Lengkapi Ekosistem Pendidikan Nalanda

Setelah menyampaikan apresiasi kepada para pendiri dan donatur, pembahasan berlanjut pada rencana pemanfaatan gedung dan pengembangan pendidikan Nalanda. Rektor Institut Nalanda Dr. Sutrisno, S.IP., M.Si. menjelaskan bahwa Gedung Balaputradewa akan melengkapi ekosistem pendidikan Nalanda, mulai dari pendidikan usia dini dan pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

“Hari ini kita membincang dan merancang masa depan yang nantinya akan kita titipkan kepada umat serta generasi mendatang sebagai fondasi peradaban Indonesia,” ujar Rektor.

Menurutnya, perkembangan Nalanda dapat digambarkan seperti pohon yang terus tumbuh dan memperkuat akarnya. Perubahan status dari sekolah tinggi menjadi institut menunjukkan pertumbuhan lembaga, sedangkan bertambahnya program studi, mahasiswa, dan fasilitas pendidikan mencerminkan semakin luasnya manfaat yang diberikan.

“Nalanda tumbuh ke atas dari sekolah tinggi menjadi institut dan berkembang ke samping melalui program studi serta fasilitasnya. Gedung Balaputradewa melengkapi proses tumbuh dan berkembang tersebut,” jelasnya.

Gedung Balaputradewa dirancang untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan secara berjenjang. Lantai pertama didedikasikan bagi pendidikan anak usia dini. Lantai kedua dipersiapkan untuk jenjang sekolah dasar dan untuk sementara dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran program pascasarjana. Adapun lantai ketiga difungsikan sebagai rektorat guna mendukung pengelolaan dan pengembangan Institut Nalanda.

Pendiri Nalanda Kenang Perjuangan Membangun Pendidikan Buddhis Selama 50 Tahun

Paparan mengenai masa depan pendidikan tersebut kemudian dilengkapi dengan perjalanan panjang yang telah dilalui Nalanda. Dalam sesi kilas balik 50 tahun, dr. R. Surya Widya, SpKJ. menceritakan bahwa gagasan mendirikan lembaga pendidikan bermula pada 1976 dari keprihatinannya terhadap keterbatasan guru Agama Buddha.

“Pada 1979, mahasiswa Nalanda hanya berjumlah tiga orang. Kami belum memiliki tempat kuliah sehingga kegiatan pembelajaran masih meminjam ruang kelas di Gandhi Memorial School,” ujar dr. R. Surya Widya.

Ia menjelaskan bahwa keterbatasan tempat, tenaga, dan pembiayaan menjadi bagian dari perjuangan pada masa perintisan. Nalanda kemudian memasuki fase kemandirian dengan membeli gedung di Jalan Kramat Raya No. 64, memperoleh lahan di Cakung pada 1997, membangun Gedung Ramayana pada 2003, serta memindahkan seluruh kegiatan perkuliahan ke kampus baru pada 2004.

“Saya mengakui bahwa memulai pendidikan sangat sulit, tetapi kalau tidak dimulai, tidak akan ada hasil. Kita masih berada di tengah perjalanan dan harus terus maju,” jelasnya.

Supriyadi: Sinergi Seluruh Elemen Dibutuhkan untuk Memajukan Pendidikan Buddhis

Setelah perjalanan panjang Nalanda disampaikan melalui sesi kilas balik dan video dokumenter pembangunan Gedung Balaputradewa, rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia, Drs. Supriyadi, M.Pd. Ia menilai peresmian gedung baru sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa, negara, dan agama melalui penguatan pendidikan.

“Bakti kita hari ini adalah memperkuat ekosistem pendidikan yang menjadi bagian penting bagi perkembangan pendidikan keagamaan Buddha,” ujar Drs. Supriyadi, M.Pd.

Menurutnya, ekosistem pendidikan keagamaan Buddha perlu dibangun secara menyeluruh, mulai dari pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Kerja sama antara pemerintah, yayasan, institusi pendidikan, donatur, dan masyarakat diperlukan untuk menjaga mutu sekaligus memenuhi kebutuhan pendidikan generasi Buddhis.

“Kita tidak lagi hanya berfokus pada pendidikan tinggi, tetapi sudah mulai turun hingga tingkat pendidikan usia dini. Ekosistem pendidikan harus dibangun dari fondasi awal,” jelasnya.

Drs. Supriyadi, M.Pd. turut mendorong terjaganya koordinasi dan sinergi antara yayasan dengan sivitas akademika. Ia berharap Institut Nalanda dapat terus meningkatkan kualitas dosen, melahirkan guru besar, dan berkembang menjadi institusi pendidikan yang lebih luas.

“Tidak berhenti di institut, tetapi dua atau tiga dekade ke depan sudah menjadi universitas,” ujar Drs. Supriyadi, M.Pd.

Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera Tekankan Pendidikan Berbasis Kebijaksanaan dan Welas Asih

Pesan mengenai pengembangan institusi kemudian diperdalam melalui anusāsanā yang di sampaikan Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera. Ia menjelaskan bahwa nama Balaputradewa memiliki hubungan historis yang erat dengan Nalanda. Raja Sriwijaya tersebut dikenal membangun vihara bagi para bhikkhu dan pelajar dari Nusantara di kompleks Universitas Nalanda, India.

“Balaputradewa bukan sekadar Raja Sriwijaya. Beliau memiliki kaitan erat dengan Nalanda karena membangun vihara Indonesia di kompleks Universitas Nalanda untuk kepentingan para bhikkhu dan pelajar dari Nusantara,” ujar Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera.

Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera juga menekankan bahwa pendidikan perlu melampaui penguasaan pengetahuan secara intelektual. Dalam Dhamma, kebijaksanaan dapat diperoleh melalui proses mendengar dan membaca, menggunakan pemikiran serta penalaran, kemudian diperdalam melalui pengembangan batin.

“Pendidikan tidak hanya berupa pendidikan intelektual, tetapi juga pendidikan etika, moral, dan spiritual. Kebijaksanaan perlu tumbuh melalui pembelajaran, pemikiran, serta latihan meditasi untuk melihat ke dalam diri,” jelasnya.

Menurut Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera, tanggung jawab pendidikan tidak hanya berada pada lembaga atau tenaga pengajar. Keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, sedangkan guru dan dosen perlu membimbing peserta didik dengan perhatian dan cinta kasih.

“Orang tua adalah guru bagi anak-anak di rumah, sedangkan guru dan dosen adalah orang tua bagi anak-anak di sekolah. Karena itu, pendidikan harus dilaksanakan dengan cinta kasih, bukan hanya berorientasi pada kemampuan kognitif,” ujar Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera.

Setelah seluruh sambutan dan anusāsanā yang disampaikan Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera, rangkaian kegiatan memasuki prosesi utama peresmian Gedung Balaputradewa. Peresmian ditandai dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti. Prasasti sebelah kiri ditandatangani oleh Dirjen Bimas Buddha, sedangkan prasasti sebelah kanan ditandatangani oleh Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera. Perwakilan donatur turut membubuhkan tanda tangan sebagai penanda dukungan terhadap pembangunan gedung.

Selama prosesi pemotongan pita dan penandatanganan prasasti Gedung Balaputradewa berlangsung, para anggota Saṅgha yang hadir membacakan paritta pemberkahan. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan pemercikan tirta paritta pada Gedung Balaputradewa sebagai bagian dari pemberkahan fasilitas yang akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran, pengelolaan akademik, dan pengembangan Institut Nalanda.

Semoga Gedung Balaputradewa dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai ruang pendidikan yang mendukung lahirnya generasi berpengetahuan, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai Dhamma, sekaligus memperkuat kontribusi Institut Nalanda bagi kemajuan pendidikan dan kehidupan masyarakat Indonesia. (anes/rfn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *