JAKARTA – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Pemuda Marhaenis (DPD GPM) Provinsi DKI Jakarta menggelar Konferensi Daerah (Konferda) I dan Konferensi Cabang (Konfercab) Gerakan Pemuda Marhaenis se-DKI Jakarta di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (2/8/2026).
Mengusung tema “Jaga Jakarta Melalui Aliran Trisakti Marhaenis”, forum organisasi tersebut menjadi momentum konsolidasi kader sekaligus penguatan arah perjuangan GPM dalam mengimplementasikan ajaran Bung Karno di tengah tantangan zaman.
Dalam pidato kebangsaannya, Ketua Dewan Pembina DPP Gerakan Pemuda Marhaenis, Toto Suryawan Soekarnoputra, menegaskan bahwa GPM merupakan salah satu organisasi yang hingga kini masih berkomitmen menjaga dan mengimplementasikan nilai-nilai perjuangan Bung Karno secara konsisten.
“Saya melihat GPM menjadi salah satu organisasi yang benar-benar ingin bangkit kembali dengan sungguh-sungguh menerapkan ajaran Bung Karno. Ini yang harus terus dijaga,” kata Toto di hadapan peserta Konferda dan Konfercab.

Menurutnya, GPM memiliki karakter yang berbeda dibanding organisasi kepemudaan lainnya karena menghimpun berbagai lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa, pedagang, buruh, pekerja informal, seniman, hingga pelaku usaha kecil yang merupakan representasi kaum Marhaen.
Ia mengutip pemikiran Bung Karno dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi yang menjelaskan bahwa kaum Marhaen bukan hanya petani atau buruh, tetapi seluruh rakyat kecil yang mengalami ketertindasan secara ekonomi maupun sosial.
“Di GPM ada tukang ojek, pedagang, seniman, dan berbagai profesi lainnya. Mereka semua adalah kaum Marhaen sebagaimana dijelaskan Bung Karno,” ujarnya.

Toto juga menekankan pentingnya membangun sinergi antargenerasi di tubuh organisasi. Menurutnya, kolaborasi antara kader senior dan generasi muda menjadi modal utama untuk memperkuat eksistensi GPM di masa depan.
“Yang kita harapkan adalah adanya sinergi antara kaum tua dan kaum muda. Organisasi akan menjadi kuat apabila pengalaman dipadukan dengan semangat generasi muda,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Toto mengungkapkan bahwa DPP GPM terus memperkenalkan organisasi kepada berbagai pemangku kepentingan nasional sebagai bagian dari strategi membangun eksistensi organisasi.

Ia menyebut GPM telah melakukan audiensi dengan sejumlah lembaga negara dan kementerian, di antaranya Kementerian Hak Asasi Manusia, Kementerian Hukum, Kementerian Luar Negeri, hingga Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
“Kami memperkenalkan bahwa GPM masih ada dan terus bergerak. Ini bagian dari strategi agar perjuangan Marhaenisme tetap dikenal di tingkat nasional,” katanya.
Dalam pidatonya, Toto juga menyoroti kepemimpinan visioner Bung Karno yang dinilainya memiliki pandangan jauh ke depan. Ia mencontohkan tulisan Bung Karno mengenai Indonesianisme dan Pan-Asianisme yang menurutnya telah menggambarkan dinamika geopolitik dunia jauh sebelum Perang Pasifik pecah pada 1941.
“Bung Karno adalah pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan. Banyak pemimpin, tetapi tidak semua memiliki kemampuan membaca masa depan seperti beliau,” ujarnya.

Meski demikian, Toto menegaskan bahwa implementasi ajaran Trisakti tidak boleh dipahami secara kaku. Menurutnya, nilai-nilai Trisakti harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi saat ini.
Ia mencontohkan, apabila pada masa Bung Karno penyampaian gagasan dilakukan melalui pidato-pidato langsung, maka di era digital perjuangan dapat dilakukan melalui media sosial sebagai sarana edukasi politik, pelestarian budaya, dan penguatan ekonomi masyarakat.
“Kalau dulu Bung Karno berkeliling menyampaikan pidato, sekarang kita bisa menggunakan media sosial. Nilai Trisakti tetap sama, tetapi cara mengimplementasikannya harus mengikuti perkembangan zaman,” jelasnya.
Pada aspek budaya, Toto mendorong generasi muda memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat luas. Sementara dalam bidang ekonomi, ia mengajak kader GPM mengembangkan semangat berdikari melalui kewirausahaan berbasis teknologi digital.
Menutup pidatonya, Toto mengajak seluruh kader GPM menjaga komunikasi dan memperkuat persatuan organisasi sebagai modal membangun Indonesia sesuai cita-cita Bung Karno.
“Yang paling penting adalah komunikasi. Kaum tua dan kaum muda harus bersatu dan bersinergi agar GPM semakin besar dan semakin dikenal masyarakat. Kita ambil nilai-nilai positif ajaran Bung Karno dan menyesuaikannya dengan perkembangan zaman,” pungkasnya.
Konferda I DPD GPM DKI Jakarta dan Konfercab GPM se-DKI Jakarta diharapkan menghasilkan kepengurusan yang mampu memperkuat konsolidasi organisasi di tingkat daerah serta merumuskan program kerja yang selaras dengan semangat Trisakti Marhaenis dalam menjaga Jakarta dan memperkuat kontribusi pemuda terhadap pembangunan bangsa. (rfn)
