JAKARTA BARAT – Grand Final Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia 2026 digelar di Grand Ballroom Hotel Mega Anggrek, Jakarta Barat, Sabtu (17/10/2026). Bertepatan dengan peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026, ajang ini menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan generasi muda terhadap kebudayaan sekaligus merawat identitas bangsa di tengah arus modernisasi.
Memasuki penyelenggaraan tahun kelima sejak pertama kali digelar pada 2022, Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia menghadirkan 48 finalis yang mewakili berbagai provinsi di Indonesia. Mereka berkumpul untuk merayakan keberagaman budaya Nusantara sekaligus menunjukkan peran generasi muda dalam menjaga dan memperkenalkan warisan budaya bangsa.
Acara dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Anindita Kusuma Listya, S.Sos., MPP., Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI; Fahira Idris, Senator Provinsi DKI Jakarta; Dr. Reko Serasi, S.S., M.A., Founder Putra Putri Budaya Indonesia; Abizar Yogyananda U., Grand Winner Putra Budaya Indonesia 2022; Syafira Mardhiyah, Putri Indonesia Kebudayaan 2025; Ivan Chen, Ketua KOMTAP KADIN Indonesia Bidang Pengembangan Pemanfaatan dan Pembinaan Budaya; serta Sofian Tyar, S.E., M.M., Chief of Academy Ekles Group.
Hadir pula Rohman Hidayat, Grand Winner Putra Budaya Indonesia 2023; Princessa Lelindra, Grand Winner Putri Budaya Indonesia 2023; dan Ursula Butar Butar.
Angkat Peran Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan penampilan opening dance seluruh finalis Putra Putri Budaya Indonesia 2026.

Acara dipandu oleh Rohman Hidayat dan Princessa Lelindra, yang merupakan Grand Winner Putra dan Putri Budaya Indonesia 2023.

Dalam pengantarnya, pembawa acara menegaskan bahwa Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia bukan sekadar kompetisi, melainkan gerakan nasional yang mempertemukan pemuda-pemudi dari berbagai daerah untuk menyalakan semangat kebudayaan.
“Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia pada malam hari ini tidak hadir hanya sebagai kompetisi saja, melainkan sebagai gerakan nasional yang mempersatukan para pemuda-pemudi terbaik dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia untuk bersama menyalakan semangat kebudayaan di tengah arus modernisasi dan juga kemajuan zaman,” ujar pembawa acara.
Para finalis diharapkan mampu menjadi duta budaya yang berkarakter, berwawasan luas, dan memiliki jiwa nasionalisme. Mereka juga diharapkan dapat menjembatani kearifan lokal dengan dinamika dunia modern sehingga kebudayaan Indonesia tetap relevan dan dikenal oleh generasi mendatang.
Reko Serasi: Lima Tahun Konsisten Mencintai Budaya
Dalam sambutannya, Founder Putra Putri Budaya Indonesia, Dr. Reko Serasi, S.S., M.A., menyampaikan bahwa para finalis sejatinya telah menjadi pemenang karena berhasil mewakili kebudayaan daerah masing-masing.
Ia mengungkapkan, dalam kunjungannya ke Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada 15 Oktober 2026, pimpinan DPD RI yang dipimpin Sultan Najamudin menyampaikan apresiasi terhadap para peserta yang telah menjadi perwakilan budaya dari provinsi masing-masing.
“Saat berkunjung ke DPD pada tanggal 15 Oktober kemarin, pimpinan DPD yang dipimpin oleh Bapak Sultan Najamudin menyatakan anak-anak ini adalah pemenang. Sudah pemenang karena mereka adalah putra-putri budaya provinsi. Mereka sudah menjadi pemenang di provinsi masing-masing. Malam ini mereka hanya merayakan kebersamaan mereka, merayakan rasa cinta yang mereka miliki pada budaya mereka masing-masing yang membentuk warna Indonesia,” kata Reko.

Menurutnya, penyelenggaraan tahun kelima menjadi tonggak penting bagi keberlanjutan ajang tersebut. Konsistensi selama lima tahun dalam memberikan ruang bagi generasi muda untuk mencintai kebudayaan merupakan kebanggaan tersendiri bagi penyelenggara.
“Bagi kami, lima tahun selalu bersama, lima tahun selalu konsisten untuk mencintai budaya, itu adalah sebuah kebanggaan,” ujarnya.
Reko juga menilai kehadiran para finalis dari berbagai provinsi menjadi bukti bahwa masih banyak generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan Indonesia.
“Para finalis kita malam ini yang hadir dari berbagai provinsi membuat kita sadar bahwa generasi muda kita ternyata masih banyak yang mencintai budaya. Kami berani bilang bahwa kami menjadi bukti bahwa stigma yang mengatakan generasi muda kita semakin tidak mencintai budayanya, itu terbantahkan oleh Putra-Putri Budaya Indonesia,” tuturnya.
Dukungan Berbagai Daerah
Dalam kesempatan tersebut, Reko menyampaikan apresiasi kepada para tamu undangan dari berbagai daerah, termasuk perwakilan pemerintah daerah, Balai Pelestarian Kebudayaan, serta dinas yang membidangi pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata.
Ia menyebutkan kehadiran perwakilan dari sejumlah wilayah, termasuk Kuantan Singingi, Bangka Belitung, Kalimantan Timur, dan Bengkulu, sebagai bentuk dukungan terhadap generasi muda yang terlibat dalam pelestarian budaya.
Reko turut menekankan hubungan erat antara kebudayaan dan pariwisata. Menurutnya, kebudayaan merupakan salah satu unsur penting yang dapat memperkuat daya tarik pariwisata Indonesia.
Ia berharap dukungan terhadap generasi muda tidak berhenti pada penyelenggaraan kompetisi, tetapi berlanjut melalui berbagai upaya nyata untuk menjaga kebudayaan dan identitas nasional.
“Harapan kami, kita terus memberikan dukungan kepada generasi muda kita, menjaga budaya, menjaga identitas kita sebagai bangsa Indonesia,” katanya.
Anindita Kusuma Listya Apresiasi Putra Putri Budaya Indonesia 2026, Dorong Generasi Muda Lestarikan Budaya Nusantara
“Pertama-tama tentunya apresiasi pada Yayasan Serasi dan Tari Indonesia yang telah menyelenggarakan Putra-Putri Budaya Indonesia. Saya mendapat informasi ini sudah yang kelima kali, dan tentunya Kementerian Kebudayaan sangat mendukung program ini, terutama secara khusus memberikan perhatian terhadap kebudayaan sekaligus melibatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam pemajuan kebudayaan nasional,” ujar Anindita.
Ia menjelaskan, keberadaan Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian tersendiri yang secara khusus menangani bidang kebudayaan menunjukkan komitmen pemerintah dalam menempatkan kebudayaan sebagai salah satu prioritas nasional.

Anindita juga menyoroti besarnya modal budaya yang dimiliki Indonesia, baik dari sisi keberagaman maupun perjalanan peradabannya. Menurutnya, kekayaan budaya Indonesia tidak cukup hanya dipahami sebagai keberagaman biasa, tetapi merupakan potensi besar yang perlu dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Indonesia ini sudah tidak lagi bisa disebut sebagai negara yang beragam. Diversity sudah tidak lagi bisa menggambarkan keanekaragaman budaya Indonesia. Jadi, biasa kita menyebutnya sebagai Mega Cultural Diversity, karena keberagaman kita yang sangat-sangat besar,” katanya.
Ia menyebutkan Indonesia memiliki lebih dari 1.340 suku bangsa serta 718 bahasa daerah yang masih hidup dan tercatat. Kekayaan tersebut, menurutnya, memperlihatkan besarnya potensi budaya yang dimiliki bangsa Indonesia di tengah masyarakat dunia.
Selain keberagaman, Anindita menekankan bahwa Indonesia juga mempunyai akar peradaban yang panjang. Ia mencontohkan temuan fosil Homo erectus yang dahulu dikenal sebagai Pithecanthropus erectus, serta penelitian mengenai lukisan gua purba di wilayah Indonesia bagian timur.
Anindita merujuk pada temuan lukisan gua berusia sekitar 67.800 tahun yang disebutnya sebagai salah satu bukti penting mengenai panjangnya sejarah kebudayaan manusia di Nusantara.
Menurutnya, berbagai temuan tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak hanya memiliki kekayaan budaya yang beragam, tetapi juga warisan peradaban yang perlu terus diteliti, dilindungi, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Transmisi Nilai Budaya kepada Generasi Muda
Lebih lanjut, Anindita menegaskan bahwa kekayaan budaya tidak akan bermakna apabila tidak diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, diperlukan proses transmisi nilai agar pengetahuan, tradisi, dan identitas budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Ia menilai ajang Putra Putri Budaya Indonesia memiliki peran strategis dalam membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus mempromosikan kebudayaan daerah masing-masing.
“Saya senang sekali mewakili Kementerian Kebudayaan karena sangat mengapresiasi ratusan putra-putri budaya yang memajukan budaya di Indonesia,” tuturnya.
Anindita juga memberikan pesan kepada seluruh finalis agar tidak semata-mata memandang ajang tersebut sebagai kompetisi untuk meraih gelar juara. Menurutnya, seluruh peserta telah menunjukkan komitmen terhadap kebudayaan dengan mewakili daerah masing-masing.
“Kalian semua adalah pemenang. Apapun hasilnya malam ini, kalian adalah para pemenang dan kalian adalah duta budaya Indonesia,” tegasnya.
Ia berharap para finalis mampu menjadikan pengalaman dalam ajang tersebut sebagai kesempatan untuk mempromosikan kekayaan budaya Indonesia, menjaga akar kebudayaan nasional, serta memperkenalkan identitas bangsa di tengah pergaulan global.
“Jadikan ajang ini sebagai promosi budaya, majukan budaya bangsa. Kalian harus menjadi duta-duta budaya yang mampu memegang teguh akar kebudayaan di Indonesia, sekaligus mempromosikan kebudayaan Indonesia di tengah peradaban global,” pungkasnya.
Melalui dukungan pemerintah dan keterlibatan generasi muda, Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi ajang apresiasi terhadap potensi anak bangsa, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan untuk melestarikan, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan Indonesia.
Fahira Idris: Generasi Muda Harus Jadi Pelaku dan Pengembang Budaya Indonesia
Anggota DPD RI dari Provinsi DKI Jakarta, Fahira Idris, menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga sekaligus mengembangkan kebudayaan Indonesia agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Grand Final Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia 2026 di Grand Ballroom Hotel Mega Anggrek, Jakarta Barat, Sabtu (17/10/2026).
Dalam sambutannya, Fahira menyampaikan bahwa dirinya hadir mewakili Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin, yang berhalangan hadir, Fahira juga menjelaskan secara singkat peran DPD RI sebagai lembaga perwakilan daerah. Ia berharap para finalis dan panitia Putra Putri Budaya Indonesia dapat menjalin komunikasi dengan anggota DPD RI dari berbagai provinsi untuk memperluas dukungan terhadap program pelestarian kebudayaan pada masa mendatang.

Menurut Fahira, tantangan pelestarian budaya saat ini bukan hanya mencegah hilangnya warisan leluhur, tetapi juga memastikan kebudayaan terus berkembang, relevan dengan kehidupan masyarakat, dan memberikan manfaat nyata.
“Tantangan kita saat ini bukan hanya bagaimana menjaga budaya agar tidak hilang. Tetapi bagaimana membuat budaya terus hidup, berkembang, relevan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Jadi, di sinilah peran anak muda. Di sinilah peran kita semua,” ujar Fahira.
Ia menekankan bahwa generasi muda tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai penerima warisan budaya dari generasi sebelumnya. Sebaliknya, mereka perlu mengambil peran aktif sebagai pelaku, pencipta, pengembang, sekaligus penghubung yang membawa kebudayaan Indonesia menuju masa depan.
Fahira meyakini bahwa kebanggaan terhadap budaya sendiri, apabila dipadukan dengan kreativitas, teknologi, dan pola komunikasi yang sesuai dengan perkembangan zaman, dapat memperluas jangkauan kebudayaan Indonesia hingga ke tingkat internasional.
“Saya percaya ketika anak muda bangga pada budayanya, kemudian mampu mengemasnya dengan kreativitas, dengan teknologi, dengan cara komunikasi yang sesuai zamannya, insyaallah budaya Indonesia tidak akan lestari saja, tetapi juga akan semakin kuat dan semakin dikenal dunia,” tuturnya.
Melalui ajang Putra Putri Budaya Indonesia 2026, Fahira berharap para finalis mampu menjadi generasi yang tidak hanya memahami dan mencintai kebudayaan daerahnya, tetapi juga berani berinovasi dalam memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat luas.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan lintas generasi. Dengan kreativitas dan pemanfaatan teknologi, generasi muda memiliki peluang besar untuk menjadikan kebudayaan Indonesia tetap berakar pada tradisi sekaligus mampu bersaing dan dikenal di tengah pergaulan global.
Fahira Idris Serahkan Piagam Penghargaan DPD RI kepada Yayasan Putra Putri Budaya Indonesia dan Reko Serasi
Fahira Idris, menyerahkan piagam penghargaan DPD RI kepada Yayasan Putra Putri Budaya Indonesia dan Dr. Reko Serasi, S.S., M.A., selaku Founder Putra Putri Budaya Indonesia, dalam rangkaian Grand Final Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia 2026 di Grand Ballroom Hotel Mega Anggrek, Jakarta Barat, Sabtu (17/10/2026).
Penyerahan piagam tersebut menjadi bentuk apresiasi atas penyelenggaraan ajang yang memberikan ruang bagi generasi muda untuk mencintai, melestarikan, dan mempromosikan kebudayaan Indonesia.

Dalam prosesi penyerahan piagam pertama, Fahira menyerahkan penghargaan kepada Yayasan Putra Putri Budaya Indonesia. Ia berharap yayasan tersebut terus berkembang dan mendapatkan dukungan yang semakin luas.
“Semoga semakin berjaya. Kami dari DPD RI tentunya akan mendukung, dan saya juga akan menyebarluaskan acara ini kepada teman-teman saya. Saya saja menyesal baru tahu tahun ini ada acara ini. Sukses ya, Pak Reko,” ujar Fahira.
Selanjutnya, Fahira menyerahkan piagam penghargaan kedua kepada Dr. Reko Serasi sebagai Founder Putra Putri Budaya Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras, dedikasi, dan kontribusi nyata dalam mengembangkan kegiatan yang mendorong kecintaan generasi muda terhadap kebudayaan nasional.
“Terima kasih atas kerja kerasnya, kerja cerdasnya, dan kontribusi nyata untuk masyarakat. Semoga terus sukses dunia dan akhirat,” tutur Fahira.
Fahira berharap penghargaan tersebut dapat menjadi motivasi bagi penyelenggara untuk terus memperkuat program pemajuan kebudayaan dan memperluas partisipasi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Penyerahan piagam ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara penyelenggara kegiatan kebudayaan dan para pemangku kepentingan, termasuk DPD RI, dalam mendukung pelestarian warisan budaya serta memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.
48 Finalis Mewakili Keberagaman Nusantara
Sebanyak 48 finalis tampil dalam Grand Final Putra Putri Budaya Indonesia 2026. Mereka berasal dari berbagai provinsi, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Berikut daftar finalis yang berpartisipasi dalam ajang tersebut:
Sumatera
- Hafizha – Sumatera Utara
- Fathiyah Puti R. – Riau
- Bobi Anggara – Sumatera Selatan
- Adinda Putri – Sumatera Selatan
- Steve Indika Kosasih – Bangka Belitung
- Gillian Fensienna – Bangka Belitung
- Apriansya Putra – Bengkulu
- Loren Saliha – Bengkulu
Jawa
- Tubagus Ahmad – Banten
- Aqilah Keisya – Banten
- Chika Ananda – DKI Jakarta 1
- M. Sulthon – DKI Jakarta 2
- Lingga Khairunnisa – DKI Jakarta 2
- Agita Putri – DKI Jakarta 6
- Satrya Bintang Pamungkas – Jawa Barat
- Rismayanti – Jawa Barat
- Debi Arlianto – DI Yogyakarta
- Reyhan Ardiansyah – Jawa Timur
- Priscilla Aurelia – Jawa Timur
Kalimantan
- Christian Yogi Wijaya – Kalimantan Barat
- Valensia Flora – Kalimantan Barat
- M. Anggara – Kalimantan Tengah
- Putri Paswicia – Kalimantan Tengah
- Abdus Salam – Kalimantan Selatan
- Veronica Yaennita – Kalimantan Selatan
- Ahmad Awwaludin – Kalimantan Timur
- Anisa Suliyanti – Kalimantan Timur
Sulawesi
- Itonk Suprianto – Gorontalo
- Umayira Malika – Gorontalo
- Fachri Sumaila – Sulawesi Utara
- Rya Anggreni Supeno – Sulawesi Utara
- Rizki Ardiansa – Sulawesi Tengah
- M. Ilyasa – Sulawesi Selatan
- M. Sahrun Mubarak – Sulawesi Tenggara
- Annisa Dhya – Sulawesi Tenggara
Maluku
- Marina Bethris P. – Maluku
- Gracia Juliana – Maluku Utara
Papua
- Yermias Jems – Papua Barat
- Yohana Ester – Papua Barat
- Calvert Edward – Papua Barat Daya
- Arsthy Nonce – Papua Barat Daya
- Willem Robi – Papua
- Edelet Violeta – Papua
- Hardi Kuncoro – Papua Tengah
- Tereza G. Azalia – Papua Tengah
- Teus Tabuni – Papua Pegunungan
- Stephany Rebecca – Papua Pegunungan
- Meidi Reflin – Papua Selatan
- Grice Ribkah – Papua Selatan
Tujuh Tokoh Jadi Dewan Juri Grand Final Putra Putri Budaya Indonesia 2026
Dalam rangkaian Grand Final Pemilihan Putra Putri Budaya Indonesia 2026, pembawa acara memperkenalkan tujuh tokoh yang dipercaya menjadi dewan juri. Mereka berasal dari unsur pemerintah, perwakilan daerah, praktisi kebudayaan, pemenang ajang sebelumnya, hingga kalangan profesional.
Ketujuh dewan juri tersebut adalah:
- Anindita Kusuma Listya, S.Sos., MPP. – Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI.
- Fahira Idris – Senator Provinsi DKI Jakarta.
- Dr. Reko Serasi, S.S., M.A. – Founder Putra Putri Budaya Indonesia.
- Abizar Yogyananda U. – Grand Winner Putra Budaya Indonesia 2022.
- Syafira Mardhiyah – Putri Indonesia Kebudayaan 2025.
- Ivan Chen – Ketua KOMTAP KADIN Indonesia Bidang Pengembangan Pemanfaatan dan Pembinaan Budaya.
- Sofian Tyar, S.E., M.M. – Chief of Academy Ekles Group.
Kehadiran dewan juri dengan latar belakang yang beragam diharapkan dapat memberikan penilaian terhadap para finalis secara menyeluruh, baik dari aspek wawasan kebudayaan, karakter, kepribadian, kemampuan komunikasi, maupun potensi mereka dalam mempromosikan budaya Indonesia.
